Sunday, October 16, 2011

Akan Indah Pada Waktunya


Ketika (Bukan) Si ‘Dia’ Yang Jadi Jodohku

~Tri Lego Indah F N~

Syifa, demikian dirinya biasa disapa. Keturunan jawa asli berkulit hitam manis ini adalah sosok sedikit pendiam tapi juga sangat ramah. Bisa dibilang dirinya wanita yang beruntung daripada teman-temannya. Menamatkan strata satunya dalam waktu yang cukup singkat dengan IPK yang memuaskan. Dan kini dirinya telah menjadi seorang pegawai negeri sipil.

Disaat teman-temannya yang lulus beberapa tahun setelah dirinya, kini mereka telah berbahagia dengan status barunya menjadi seorang ibu rumah tangga, tentunya dengan buah hati yang telah mereka miliki. Syifa hanya bisa tersenyum kecut melihat realita yang terjadi kini. Statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil yang kini disandangnya tidak jua membuatnya segera memiliki pasangan.  Tapi Syifa bukanlah wanita yang lemah.Wanita yang tak kenal lelah untuk menjemput jodohnya.

Syifa wanita yang sangat mandiri. Walaupun sebagai seorang pegawai negeri sipil,  Syifapun berkehidupan sangat sederhana dengan mengontrak di sebuah kosan putri tak jauh dari tempatnya bekerja.Uang hasil kerjanya pun ia tabung untuk masa depannya kelak.

            Malam itu di sebuah kamar kosan berukuran 3m x4m yang terbilang sangat sederhana, terdengar isak tangis seorang wanita yang tengah mengadu dengan Robb Nya. Disepertiga malam terakhir, dalam sujudnya yang syahdu, wanita itu selalu mengharap agar Allah SWT segera memudahkan jodoh baginya. Wanita itu adalah Syifa.

 Wanita mana yang tidak ingin untuk menggenapkan setengah Agamanya? Membina sebuah maghligai kehidupan dengan membentuk sebuah keluarga bahagia,menghasilkan generasi-generasi Robbani penerus tonggak perjuangan para salafus solih yang tak akan ada habisnya untuk berjuang hingga kalimat Allah tegak dimuka bumi ini. Betapa indah kelak jika rumah mungil mereka senantiasa diisi dengan suara merdu anak-anak mereka kelak saat  menghafal al Qur’an. Shalat jama’ah yang dilakukan bersama suami dan anak-anak kelak disebuah mushala kecil yang dibangun di rumah impiannya, diskusi keilmuan yang dibangun bersama keluarga kecil yang dibinanya, dan segala impian yang telah lama diimpikan oleh Syifa jika kelak telah berumah tangga. Jeritan hati akan impian dan cita Syifa untuk mewujudkan mimpi-mimpinya dengan belahan jiwa kelak,  membuat semangat Syifa tak bisa pudar seiring usianya yang semakin beranjak matang.


Detik waktu terus berlalu, hingga kini mentari  pagi telah muncul dari peraduannya. Suara azan terdengar sangat merdu dari seberang surau yang tak jauh dari kosan Syifa. Syifa bergegas mengambil air wudhu. Segarnya air wudhu menyejukkan kembali hatinya yang mulai bergemuruh. Bersegeralah ia melaksanakan shalat subuh dengan tak lupa shalat fajar dan shalat qobliyah subuh terlebih dahulu. Seusai shalat subuh, wanita shalihah ini pun tak lupa membaca surat cinta dari Robbnya. Suaranya yang begitu syahdu saat melantunkan ayat-ayat suci al Qur’an membuat bergetar hati orang-orang beriman yang mendengarnya. 

Mentari pagi sudah semakin bersinar terang. Setelah selesai melakukan aktivitas MCK dan merapihkan kamar, Syifapun kembali mengecek agenda apasaja yang akan dilakukannya hari ini. Aktivitas yang terbilang cukup padat yang akan dilakoninya hari ini telah tertulis dibuku agenda miliknya. Kini wanita yang ramah itu tengah bergegas untuk memulai aktivitas dan rutinitas hari ini. Dengan memacu kuda besi warna biru miliknya itu, Syifa  meluncur menuju sekolah tempatnya mengajar. Aktivitas kegiatan belajar mengajarpun berlangsung lancar.

Delapan  jam jatah mengajar yang dibebankan padanya hari ini pun berakhir sudah. Kini ia bergegas menuju rumah guru ngajinya untuk bersilaturahmi sekaligus membicarakan sesuatu yang sangat serius. Sesampainya di rumah sang guru, Syifa disambut dengan suasana penuh kehangatan. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya sampailah pada tujuan utama Syifa bertandang ke rumah sang guru. Diutarakanlah maksud dan tujuan Syifa bahwa dirinya meminta tolong kepada sang guru untuk membantunya mencarikan laki-laki sholeh yang berkenan meminangnya. Setelah memberikan proposal kepada sang guru akhirnya Syifa berpamitan. Sambil berpamitan dan cipika cipiki dengan sang guru, dengan langkah pasti Syifa menuju kuda besinya untuk kembali memacunya menuju pusat bimbingan belajar Primagama karena dirinya memang mendapat jam mengajar sore hari ini disana.

Hari demi hari, minggu demi minggu,bulan demi bulan telah berlalu, kabar yang ditunggu-tunggu dari sang guru pun tak kunjung datang. Syifa mulai resah. Tapi bukan Syifa namanya jika harus selalu berlarut larut dalam kesedihan yang mendalam. Syifa kini selalu menyibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat baginya. Sehingga hal ini bisa membantunya untuk sedikit membuatnya tenang.

Akhirnya 6 bulan sudah Syifa menunggu kabar hingga akhirnya sang guru memberi kabar baik baginya bahwa akan ada laki-laki sholeh yang berkenan untuk mengenal beliau lebih jauh. Syifa sangat berbahagia dan sangat berharap akan ada kecocokan bagi keduanya

“Allah .... semoga ini jawaban yang kau berikan padaku” batin Syifa dalam hati. Akhirnya prosedural saling kenal mengenal melalui guru ngaji masing-masing akan berlanjut ke tahap yang lebih serius. Dan dalam waktu dua minggu lagi sang lelaki shaleh melalui guru ngajinya menjanjikan bahwa akan memberikan keputusannya untuk meneruskan ataupun cukup sampai disitu tahap yang akan ditempuhnya.Syifa sangat berharap akan ada kecocokan diantara dirinya dengan lelaki sholeh tersebut.Dan akhirnya 2 prosesi terakhir akan segera terjadi jika benar-benar ada kecocokan antara keduanya, yaitu lamaran dan prosesi akad nikah. Sesuatu yang sakral yang sangat dinantikan oleh Syifa.

Dua minggu telah berlalu, Syifa masih sabar menunggu dan berkhusnudzon dengan sang lelaki sholeh tersebut. Tiga minggu, empat minggu, satu bulan, dua bulan tak juga ada kabar. Syifa mulai resah. Syifa akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan ke guru ngajinya, dan guru ngajinya pun tak memberi jawaban.  Syifa benar-benar pasrah. Tak terasa buliran air mata mengalir deras membasahi pipi Syifa. Mimpi untuk segera merajut tali kasih di atas cinta Nya bersama belahan jiwa rasanya pupus sudah.

Dalam kekecewaannya dan kesendiriannya kini, di kamar kosannya yang sangat sempit , Syifa mengambil telepon genggamnya dan memutar MP3 kesayangannya. Syifa yang sangat menyukai genre musik pop religi inipun me-list lagu-lagu opick dalam list audio player yang akan menemaninya hari ini. Hingga sampai pada lirik :
Tiada duka yang abadi di dunia
Tiada sepi merantaimu selamanya
Malam ‘kan berakhir, hari ‘kan berganti
Takdir hidup ‘kan dijalani


Tangis dan tawa nyanyian yang mengiring
Hati yang rindukan cinta dijalan-Mu
Namun ku percaya hati meyakini
Semua akan indah pada akhirnya
(Opick - Tiada Duka Yang Abadi)


Ya benar, mendengar lagu ini Syifa pun  tersentak serasa dibangunkan dari tidur panjangnya selama ini. Syifa kini menyadari bahwa tak akan ada duka yang abadi, malampun akan berakhir, haripun akan berganti. Tangis dan tawa akan selalu mengiringi setiap episode kehidupan yang akan manusia hadapi. Tak terkecuali Syifa.  Kini Syifa percaya,  dibalik kegagalannya untuk bertemu jodohnya kali ini Syifa yakin dan percaya akan ada hikmah mendalam yang akan diberikan Allah SWT pada dirinya. Syifa yakin bahwa dalam kesendiriannya saat ini sang pujaan hati yang tengah dinanti sedang ditarbiyah dan ditempa oleh Nya untuk layak menjadi pendamping dirinya kelak. Allah pasti sudah menyiapkan gantinya yang jauh lebih baik dan jauh lebih soleh, jika dirinya berupaya menjaga diri.

 Syifa yakin tidak akan ada yang salah dengan janji Allah. Bukankah yang baik memang untuk yang baik. Jika ingin mendapat pendamping yang soleh maka dirinya harus bisa menjadi wanita yang lebih solehah. Syifa yakin, tidak akan ada yang meleset dengan segala ketetapan Tuhannya, karena semuanya telah tertulis jelas dalam lauhul mahfudz. Kini saatnyalah Syifa harus kembali bangkit. Bukan pula saatnya jika kini Syifa menyesali diri apalagi menyalahkan takdir Tuhan. Bukankah seorang Sayyid Quthb saja pernah mengalami kegagalan cinta. Tapi beliau mampu menggali hikmah dan malah menghasilkan berbagai macam karya-karyanya yang sangat terkenal seperti Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an dan berbagai karya lainnya.

Kini Syifa yakin bahwa pada waktunya nanti, jodoh terbaik itu pasti akan diberikan Allah untuk dirinya. Akan terasa manis dan indah bila sesuatu itu diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan. Pengorbanan itu akan terasa nikmat jika sesuatu yang kita inginkan sudah kita raih. Termasuk mendapat pasangan hidup.

Wanita shalihah nan tegar inipun kini berazzam bahwa dirinya akan menggali butiran-butiran hikmah yang Allah siratkan untuk dirinya. Kini saatnya Syifa menggali terus potensi dan kemampuannya sampai hikmah itu sampai pada dirinya bahwa ternyata inilah cara Allah menempa dirinya untuk membuka potensi dan kemampuan yang dirinya miliki seraya membenahi segala kekurangan pada dirinya. Hingga nanti pada akhirnya sang pujaan hati akan datang menjemput dan menjadi peneman perjuangan sejati bersama dirinya kelak. Insyaallah, semua akan indah pada akhirnya.

~Selesai~
Bandar Lampung, 21 November 2010
At 03.00am

Cerpen ini terinspirasi dari kisah sahabat saya. Semoga bisa diambil hikmahnya.

Tuesday, October 4, 2011

Kisah Tarian Pena ku


Kisah Tarian Pena ku
~Tri Lego Indah F N~

Banyak definisi yang menerangkan mengenai menulis. Dan siapapun sah-sah saja untuk mendefinisikannya. Bagi saya, menulis bisa menjadi ladang ekspresi, curahan hati, beramal dan penyampai misi kebaikan- (baca: dakwah). Dengan menulis pula maka kita telah bekerja untuk keabadian.
**
Menulis kegiatan yang lekat dengan diri saya. Semenjak sekolah dasar pun aktivitas ini kian akrab dengan diri saya. Terlebih ketika dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika guru memberikan tugas untuk mengarang tentu saya sangat bersuka cita. Hobi membaca semua jenis buku dan kegemaran menonton berita di televisi terkadang membuat karangan yang saya tulis sangat berbeda dengan hasil karangan teman lain. Hingga membuat guru saya menjadi terheran-heran dengan gaya tulisan hasil karangan saya yang tak seperti gaya tulisan anak sekolah dasar.

Apa yang saya baca dan apa yang saya lihat, itulah sebenarnya yang menjadi inspirasi saya ketika membuat suatu tulisan. Hingga kini, dimanapun tempatnya maka ketika inspirasi itu datang saya akan segera mengikatnya dalam sebentuk tulisan. Saya tidak ingin menyia-nyiakan ide yang telah datang menghampiri saya. Ketika sedang berada di bis, ataupun sedang berjalan kaki, ketika ada sesuatu yang menarik hati saya untuk membuat tulisan, maka dengan cepat saya akan segera mengetikkan tuts tuts handphone saya, apa saja hal yang ingin saya tuliskan.

Pun saya akan menyatakan persetujuan ketika Muh. Faudzil Adhim mengatakan bahwa” Tak ada resep yang lebih baik untuk menjadi seorang penulis kecuali dengan menulis sekarang juga. Apapun jadinya buatlah tulisan secara spontan. Kalau memang harus melompat-lompat, biarlah melompat-lompat. Boleh jadi akan menjadi lompatan yang indah. Tulislah sekarang juga!. Apapun yang terlintas dalam fikiran. Jangan menoleh ke belakang sebelum selesai satu tulisan. Jangan sibuk memperbaiki kalau tulisan belum selesai. Revisi itu setelah tulisan jadi”.

Maka, saya pun akan membebaskan diri saya untuk menuliskan apa saja yang terlintas di pikiran saya. Saya akan membebaskan tulisan saya dari ketentuan baku tulisan seperti menggunakan EYD dan lain sebagainya. Setelah tulisan selesai, maka saya akan mengendapkannya dan kemudian barulah mengoreksinya.

Menulis juga menjadi kawan setia saya. Kertas dan pena pun mengakrabi diri saya. Kertas yang putih begitu rela saya penuhi dengan tinta hitam pena untuk sekadar saya berbagi rasa dalam sebentuk curhat yang saya tuliskan. Rasanya begitu lega ketika uneg-uneg yang menggumul di dada bisa ditumpahkan dalam sebentuk tulisan walaupun sekadar tulisan curhat.

Namun, perlahan namun pasti, kini aktivitas menulis tak cuma menjadi ajang curahan hati yang terkadang bias tanpa makna. Hanya bentuk kekesalan yang begitu “tega” saya tumpahkan pada selembar kertas. Namun kini, dengan kesadaran dan pemahaman yang perlahan saya peroleh dari membaca, kini saya sedang berusaha menjadikan tulisan memiliki banyak makna dan hikmah yang bisa diperoleh bagi para pembaca tulisan saya.

Tak sekadar menulis.
Hal yang kemudian baru saya pahami sekarang ini. Sekadar menulis saja maka akan terasa hambar tanpa diberikan bumbu pelengkap. Tulisan yang apa adanya tanpa “ruh” maka akan membuat pembaca kehilangan makna. Menyadari hal tersebut, maka saya senantiasa untuk menambah referensi bacaan-bacaan saya agar tulisan yang akan saya buat mempunyai rasa dan meninggalkan pesan bagi para pembacanya.
Menulis menjadi ladang dakwahku.
Dakwah-menebar kebaikan, tak hanya bisa dilakukan dengan lisan. Dengan menulispun saya mencoba untuk menebarnya. Dakwah bil Qolam-dakwah melalui tulisan, juga bisa menjadi media yang massive untuk mengajak ke arah kebaikan. Tentu saja, dalam tulisan yang saya hasilkan, harus mampu menyelipkan pesan kebaikan baik secara tersirat maupun tersurat dalam karya yang telah  saya tuliskan.

Dengan menulis maka saya ada.
Menulislah maka kamu ada- jargon yang mengakrabi telinga saya ketika saya tergabung dalam organisasi eksternal kampus tahun 2008 lalu. Berkaca dengan jargon tersebut sangat benar adanya. Betapa para ilmuan hebat seperti Al Kindi, Ibnu Sina, Einstein dan yang lainnya, jika mereka tak menuliskan buah karya nya dalam tulisan maka, mungkin hari ini kita tak akan mengenal mereka juga hasil karyanya serta menikmati buah pikirnya. Maka, dengan menulis tanpa kita sadari kita telah menuliskan sejarah bahwa kita memang ada. Suara kita tak akan hilang ditelan bumi ketika kita mengambil pilihan untuk menulis.

Para inspirator menulisku.
Buruh Migran Indonesia, (baca; BMI) yang dahulu disebut TKW atau nakerwan-tenaga kerja wanita, menjadi inspirator terbesarku kini untuk menarikan pena. Berawal dari mulai saya mengenal dunia facebook November 2010 lalu, saya begitu takjub mengenal sederet nama BMI yang begitu konsisten dalam menulis. BMI- yang acapkali dilabeli berpendidikan rendahan, nyatanya justru mempunyai prestasi membanggakan dibandingkan kita yang katanya berpendidikan dengan intelektualitas tinggi. Melecut saya untuk belajar dari mereka untuk terus menebar kebaikan melalui tarian pena.

Maka, kini aku akan terus mengurai kisah bersama tarian pena ku yang tak akan berhenti untuk terus menari. Beberapa karya sederhanaku yang telah hadir dalam sebentuk buku, semoga bisa menjadi saranaku untuk tabungan amal jariyah jika kelak aku telah tiada. Semakin banyak yang membaca karyaku, maka aku berharap semakin banyak investasi amal jariyahku kelak.
Dan inilah kisah tarian penaku, yang tak akan pernah berhenti menari. Memahat setiap episode kehidupan yang tak pernah lepas dari makna tersirat yang diberikan Tuhan, jika kita mampu menyadarinya.
Mari menari bersama pena, dan memberi inspirasi bagi pembaca.

Bandar Lampung, 17 April 2011
Pukul 21:28


Aku Tak Lagi Sendiri


Kini aku tak Sendiri
Oleh : Tri Lego Indah F N

            Dulu, aku dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul. Aku akan sangat cerewet ketika bertemu dengan orang baru. Aku pribadi yang mudah akrab dengan orang lain. Namun, sikapku itu kini berubah 180 derajat. Ketika itu keluargaku mengalami prahara yang perlahan mengubah sikapku. Aku, berubah menjadi pribadi yang sangat tertutup dan susah bergaul. Keadaan ini membuatku selalu merasa sendiri. Berbeda dengan teman-temanku yang lain, kemanapun aku pergi, tak seorangpun ikut menemaniku. Aku merasa sudah cukup nyaman tanpa seorang teman.
            Al hasil, ketika semester 3, aku telah memiliki sebuah komputer jinjing, laptop begitu biasa barang ini disebut. Setiap hari, lepita (nama yang ku berikan kepada laptopku ini) tak ketinggalan untuk ku bawa serta ke kampus. Meskipun tak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus sambil membawa lepita. Maklumlah, di kampus sudah ada fasilitas internet gratis berupa signal hotspot. Di tempat manapun asalkan masih di lingkungan kampus maka aku akan leluasa untuk berselancar di dunia maya.
            Aku menjadi lebih asyik dengan lepitaku dan duniaku yang baru. Dunia Maya. Dumay menjadi kawan setiaku. Aku bisa browsing apapun yang aku inginkan. Mulai dari info-info lomba sains, artikel-artikel, maupun berita-berita up to date lainnya yang sangat update disajikan oleh beberapa situs seperti kompasiana.com, beritakompas, blogdetik.com, dll.
            Semenjak berkenalan dengan  dunia maya, aku mulai keranjingan menjajal semua jejaring sosial yang ku tahu. Sebut saja facebook, twitter, millatfacebook, yahoo messangger, salingsapa, kemudianers, kompasiana, dan penulismuda semua aku memiliki akunnya. Belum lagi aku yang juga suka belajar ngeblog, mulai njajal untuk membuat blog. Walaupun semua belum ku jajal, namun aku sudah memiliki 5 blog di blogspot dan 2 blog di multiply. Aku memang penggila dunia maya. Yah, bersamanya aku merasa tidak sendiri.
            Awal aku berkenalan dengan dunia fesbuk, aku baru menjalin pertemanan dengan sahabat-sahabat yang menyukai bidang sains, dan organisasi. Sehingga, kebanyakan saat itu yang menjadi friendlistku adalah teman-teman yang pernah sama-sama ikut menjadi peserta kompetisi ilmiah secara offline maupun online. Sedangkan teman-teman organisasi kami terhubung melalui lembaga BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tingkat fakultas maupun tingkat universitas seluruh Indonesia. Barulah ketika november 2010 aku mulai tertarik dengan dunia literasi. Dan saat itulah aku mulai mencoba peruntungan untuk mengikuti event lomba menulis bertema lagu opick inspirasiku yang diadakan oleh salah satu penerbit di jogja yaitu Leutika. Saat itu aku gagal. Namun, aku tidak patah semangat, justru itulah awal mula aku mulai tertarik untuk belajar lebih banyak mengenai dunia literasi.
            Sejak mengikuti event itu, aku selalu mengamati list daftar peserta dan nama-nama yang sering tampil sebagai juara. Mulailah aku memberanikan diri untuk mengadd mbak Mieny Angel, mbak Riawany Elyta dan Akhi Dirman Al Amin. Beberapa nama penulispun juga sudah menjadi friendlistku sebelumnya, karena nongol diartikel yang biasa ku download, seperti nama Jonru (Jonriah Ukur). Semenjak permintaan pertemanan mereka konfirmasi aku selalu mengikuti catatan yang seringkali mereka buat di note fb mereka. Aku masih canggung untuk berkomentar, alhasil hanya jempol manisku yang ikut nangkring di postingan notes mereka itu J
            Hingga, baru aku sadari, bahwa di dunia kepenulisan siapapun berhak untuk menjadi penulis. Asalkan ada kemauan, niat dan yang paling penting mau menulis. Maka siapapun berhak menjadi seorang penulis. Dan ketika itu, aku terkesima melihat banyak tenaga kerja wanita di hongkong, singapura dan taiwan mereka masuk di jajaran pemenang lomba juga kini telah memiliki buku yang berisi karya mereka. Bagai dibangunkan dari alam bawah sadar, aku benar-benar terkesima. Seorang BMI dengan seabrek pekerjaan sebagai tenaga rumah tangga di negeri orang masih mempunyai waktu untuk menulis. Itulah yang menjadi titik awal aku menyadari bahwa aku termasuk orang yang tidak memanfaatkan waktu yang ada.
            Di awal tadi sudah ku ceritakan bahwa aku pribadi yang tertutup. Namun perlahan, sejak berkenalan dengan seorang BMI asal jember aku menjadi pribadi yang sedikit terbuka. Berawal dari tulisan yang ku kirim ke wall beliau hingga berlanjut obrolan via inbox, aku merasa bahwa beliau adalah kepingan puzle yang selama ini hilang dari jiwaku. Dirinya hadir di saat aku benar-benar butuh seseorang yang paham dengan diriku. Pun, aku memiliki keluarga lengkap. Orang tua yang masih lengkap dengan 1 orang kakak perempuan dan juga 1 orang kakak laki-laki. Namun, aku merasa jauh sekali dengan mereka.
            Sembilan bulan sudah persahabatn itu tercipta. Bukan lagi persahabatan, namun sebuah keluarga kecil di ranah maya telah aku jalin bersamanya. Dirinya sudah ku anggap sebagai ibu bagiku. Kepadanya aku selalu membagi segala kesahku. Dirinyalah motivasi dan inspirasiku untuk terus bersemangat menjalani hidup. Dirinyalah yang membuatku bersemangat untuk terus menarikan pena. Kami memang hanya berada dalam ruang sebatas maya. Namun, rasa memiliki itu telah terpatri dalam jiwa kami masing-masing.
            Jarak, tak membatasi kami untuk saling bersapa via telepon seluler. Aku juga tidak tahu, berapa banyak beliau mengeluarkan pulsa, sekedar untuk mendengar celotehku satu hingga dua jam melalui sambungan telepon. Selalu ada air mata yang tak bisa tertahan setiap kali kami bersapa. Terlebih, saat beberapa hari yang lalu (13 Agustus 2011) beliau menelponku dengan membacakan puisi untukku. Aku hanya bisa terisak haru. Tigapuluh menit, tak satupun kata terlontar dari bibirku. Aku menangis. Begitu tulus beliau  menyayangiku, seperti menyayangi darah dagingnya sendiri.
            Begitulah mungkin, jika dua hati saling terpaut. Rasa saling memiliki, membuat cinta itu tak pernah pudar. Bahkan aku semakin mencintainya. Sekalipun perjumpaan secara nyata belum pernah tercipta, namun kedekatan hati kami berdua membuat kami saling ‘merasa’ ketika diantara kami sedang dilanda rindu yang teramat dalam. Bersamanya, kini, aku tak lagi merasa sendiri.
Special dedicated for my mother on dumay : Yully Riswati

             

Entitas Sebuah Gerakan Mahasiswa


Entitas Sebuah Gerakan Mahasiswa
Oleh:
Tri Lego Indah F N

Gerakan mahasiswa hari ini harus jauh-jauh dari kepentingan penguasa. Untuk itulah independensi gerakan mahasiswa harus selalu dijaga. Agar gerakan mahasiswa tidak dianggap sebagai perpanjangan tangan penguasa. Mengingat entitas gerakan mahasiswa yang sarat dengan nilai intelektualitas dan nilai-nilai kemanusiaan, maka gerakan mahasiswa harus mampu memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam konteks ini gerakan mahasiswa harus mampu mengusung visi perubahan yang lebih riil.

Untuk  mencapai visi tersebut maka gerakan mahasiswa harus memiliki metodologi gerakan yang jelas dan terarah. Dalam hal ini metode gerakan yang saya tawarkan yaitu menempatkan mahasiswa sebagai garda terdepan (Avant-Garde) dari perjuangan rakyat, selain itu perubahan paradigma berpikir praksis juga harus segera diminimalisir mengingat fungsi gerakan mahasiswa hari ini adalah bukan lagi sebagai agent of change tetapi sebagai direct of change
 Dari segi metodologi gerakan sudah sepatutnya mahasiswa mampu menempatkan diri sebagai lembaga kontrol rakyat dan menjadi extra-ordinary parliament. Tegaknya kuasa rakyat sebagai pilihan dari pemerintahan demokrasi atas suatu negara, ketika adanya ‘check balance’ melalui kontrol agenda. Mahasiswa dalam berbagai hal bisa menjadi penyambung lidah rakyat, untuk melakukan advokasi kebijakan maupun pemberdayaan rakyat secara langsung.
Dalam konteks metode dan strategi perjuangan tersebut secara rill bisa kita tunjukkan dengan amanah apa yang sedang diberikan kepada kita. Sebagai contoh berkaitan dengan amanah saya di departemen humas media sebuah organisasi ekternal kampus maka saya bersama teman-teman satu departemen berusaha untuk membangun jaringan dan relasi lebih luas  dengan berbagai kalangan. Baik kalangan gerakan mahasiswa lain, birokrat, pers,  praktisi, akademisi dan lain-lain. 
 Hal ini sangat penting dalam rangka mengusung visi perubahan di mata publik. Selain itu kita juga harus mampu memahami visi dan misi gerakan yang menyeluruh dan menerjemahkan berbagai kehendak gerakan sesuai dengan keinginan publik. Saya harus pula mampu terlibat dalam upaya perbaikan nyata di tengah masyarakat. Oleh karena itu kepakaran untuk memiliki kemampuan networking, penawaran dan pengkomunikasian gagasan suatu gerakan mahasiswa harus sesuai dengan bahasa dan logika berbagai lapisan masyarakat.  Sehingga saya harus mampu memiliki skill diplomasi, komunikasi massa dan jaringan karena ini merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki agar visi perubahan di atas bisa terwujud.
Posisi gerakan mahasiswa sebagai elen vital  gerakan moral yang rasional, gerakan mahasiswa yang intelektual perlu ditunjukan dengan sikap yang demokratis dan anti anarkis. Kita tunjukan bahwa proses pembodohan tidak berlaku bagi mahasiswa, yang membungkus tindakan anarki dengan retorika demokrasi. Mahasiswa harus mengutuk tindakan premanisme politik kekerasan, yang menghalalkan anarkisme untuk tujuan politik, dengan memanipulasi kebodohanrakyat.

Untuk itu jelas kiranya, hanya satu kata perjuangan yaitu bersatu, rapatkan barisan, bahu membahu dan tegakan kebenaran di jalan yang benar. Akhirnya, Idealisme perjuangan mahasiswa harus mampu mengembalikan ruh perjuangan reformasi dimana kita telah merebutnya. Jangan biarkan reformasi mati suri di tangan para diktator yang berkedok demokrasi.