Showing posts with label Dlemingan. Show all posts
Showing posts with label Dlemingan. Show all posts

Saturday, June 8, 2013

sebuah tanya

Beginikah CINTA?
... sampai kini akupun tak jua menemukan jawabannya. Apakah makna CINTA yang telah kita bertiga sepakati. Beginikah CINTA? yang berulangkali menaburkan benih-benih luka yang kian tumbuh dengan suburnya. Beginikah CINTA? yang katanya saling menjaga. Ketika nyata-nyata janji itu berulangkali teringkari. Entah tersadar, lupa atau sedang melupa. Beginikah CINTA? Ketika nafaspun hampir sulit kuhela, kausibuk bercanda tawa di beranda. Entahlah ... hanya engkau, dia dan Tuhan yang benar-benar tahu jawabannya. 

#Maaf atas tanya yang selama ini kusimpan rapat di dada. Dan pada akhirnya, akupun tak sanggup lagi untuk menahan segala gemuruh yang bergumul di dada ....

Malammelankolis, ditingkahi rerintik gerimis di sudut mataku



08062013, 
30 hari jelang hari yang seharusnya
mengingatkan memory indah tentang pertemuan kita

Tuesday, June 5, 2012

Semoga hanya fiksi

Ini semua hanya fiksi ...! pekikku ketika aku mendapati selembar surat yang kini berada dalam genggamanku. Pertahananku luruh. Sendi-sendiku terasa lemas. Tulang-tulangku seperti terlolosi satu persatu. Aku menepuk-nepuk pipiku, meyakinkan diriku bahwa apa yang aku baca dan temukan itu tidaklah nyata. Tapi ... mengapa pipiku benar-benar sakit? Nyatakah ini Tuhan? Aku ... benar-benar tak siap, menerima surprise yang tak pernah aku bayangkan untuk kuterima. Aku masih berharap, ini semua hanyalah fiksi.

                Namun nyatanya, ini adalah realita yang mau tidak mau harus aku terima. Serapi apapun ia menyimpannya, jika Tuhan berkenan, maka tabirnyapun bisa segera tersingkap. Mungkinkah karena Tuhan merasa sudah waktunya aku untuk mengetahui ini semua? Jikapun boleh waktu aku putar kembali, ingin rasanya aku tak membuka almari tua itu, barang mencari catatan kuliah yang tak jua ketemu. Mungkin saja, selembar kertas itu masih bersemayam manis di bawah tumpukan buku-buku bekas itu. Jika saja mataku tak penasaran ketika selembar surat itu terjatuh di lantai saat buku-buku bekas itu aku keluarkan dari almari. Jika saja .... ah ... aku tak boleh banyak berandai lagi. Karena sekarang, kertas itu masih berada dalam genggaman tanganku. Kertas tua nan lusuh yang dipenuhi dengan tulisan tangan bertinta biru, tertanggal Agustus tahun duaribu. Kertas yang kini terasa basah karena tertetesi hujan air mata yang tak kuasa aku bendung saat membaca rangkaian kalimat yang ditulis di selembar kertas itu. Oh Tuhan ... aku sangat tidak siap, menerima ini semua.

                ***
                Hari ini, aku tak berselera melakukan apapun. Aku mengunci diri di kamar. Tak ada yang memedulikanku karena aku memang sudah terbiasa untuk selalu berdiam diri di kamar. Kertas itu masih kusimpan. Berulangkali aku cermati tulisan tangan itu. Masih berharap kalimat yang tertulis di situ hanyalah fiksi. Aku masih berbaik sangka karena ia pernah menjadi guru bahasa indonesia. Mungkin saja, ia sedang membuat contoh menulis surat kepada anak didiknya. Setidaknya, prasangkaku ini, sedikit menentramkan hatiku sore ini.

                ***
                Pikiranku nyalang. Tiba-tiba aku teringat masa-masa aku masih sekolah dasar. Satu persatu kalimat yang pernah aku dengar samar-samar dari penanam benih itu dan juga lahan ia menanam benih kedua saudaraku lainnya, kini seolah terdengar sangat jelas. Selisih yang katanya bumbu manis dalam sebuah bingkai kehidupan, kini menjadi godam yang meluluhlantakkan segala macam kebanggaan memilikinya. 

                Bulshit ...! 

                Aku yang seringkali menjadi tempat berbagi kesah rekan maupun saudaraku, menasehati mereka dan mensyukuri segala keadaanku, kini pun merasakan kegamangan yang pernah mereka rasakan. Hhhh ...! aku sangat malu. Malu sekali! Ingin rasanya aku pergi meninggalkan bumi dan berpindah ke bulan ataupun planet lain. 

                *** 

                Malam-malamku semenjak hari itu terasa suram, aku merasa duniaku telah runtuh. Tiada lagi yang bisa kubanggakan. Kesetiaan yang kuelu-elukan, hanyalah kebanggaan semu yang berwujud maya. Dua belas tahun, ia berhasil memainkan sandiwara itu sekaligus merangkap sebaga penulis skenario ceritanya. Dua belas tahun, entah berapa ribu episode yang telah rampung ia tulis dan perankan sendiri sebagai tokoh utamanya. Entahlah ... ia telah sangat berhasil, mecabik-cabik hatiku dan juga hati kami semua.

***

                Malam ini, aku mencoba merenung. Mengembalikan fikiran jernihku. Membaca pesan Tuhan yang disiratkan dari apa yang telah aku terima beberapa hari terakhir. Aku tercenung. Aku berusaha untuk bisa kembali menerimanya, meski sisi melankolisku tentu saja sangat kecewa. Namun ... alangkah kejinya aku, jika aku tak memberinya ruang untuk bisa berubah. Cukuplah Tuhan telah memberikan hukuman kepadanya selama 12 tahun ini. Bukankah lahan untuk dia menanam benih kedua saudaraku, telah begitu legowo menerima ini semua. Bahkan begitu rapi pula memendam rasanya, demi melihat kami merasa bangga memiliki mereka. Betapa hebatnya ia. Masih mampu bertahan dalam kondisi hati hancur berkeping-keping. Hanya demi kami. Buah cinta yang ditanam si penanam benih dalam rahimnya. Ia masih begitu rasional untuk berfikir. Padahal aku sudah sangat kalap. 

                 Malam ini pula aku mendo’a kepada Tuhan. Agar Engkau bisa sadar. Agar Engkau bisa bertobat. Agar hukuman yang Engkau terima dari Tuhan selama 12 tahun ini, menjadi penggugur dosa-dosamu di masa lalu. 

Bandarlampung, 05062012-22:22

Wednesday, May 30, 2012

Ceria ... will come back couse you!

Bersyukurnya aku bisa mengenalnya, dan menjadikannya memiliki ruang di hatiku. Entahlah ... mungkin jika aku tak memilikinya, sampai detik ini aku masih sangat gamang. 

Sisi melankolisku yang terlalu mendramatisir peristiwa-peristiwa yang aku alami beberapa minggu lalu hingga seulas senyumpun begitu pelit aku bagi untuk sesiapapun. Namun ... ketika kemarin kuberanikan diri untuk menumpahkan segala kegamanganku, ia menjadi problem solving yang akhirnya mengembalikan lagi senyum dan ceriaku. Ah ... betapa beruntungnya aku. Aku catat dan akan terus aku ingat segala wejangannya sesore tadi. Terima kasih, Peri Unguku .... <3

Ruang Hati, Albarokah, 06062012-21:30

Tuesday, April 17, 2012

Tentang Rasa

Nyaman. Semua orang ingin berada dalam kondisi itu. Kondisi nyaman. Begitu juga aku.  Jujur, siang ini aku menangis. Selera makanku jadi hilang. Padahal hari ini, aku mulai bersemangat untuk kembali menyuapkan nasi ke mulutku.  Setelah sekian lama, tak kulirik makanan berkabohidrat bernama nasi itu.

 Huft. Entahlah.  Atau mungkin aku yang sedang mellow dj, sehingga bisa seperti ini. Duh, dek. Bisakah kau sadar. Sesungguhnya, sejak satu tahun lalu. Aku sangat berharap kau bisa berubah. Lupakah engkau dengan teguranku via sms di tahun lalu? Ayolah dek. Kamu sebenarnya bisa berubah. Lekaslah sadar, bahwa orang-orang di sekelilingmu, sungguh semua menyayangimu. Turunkan sikap tinggi hatimu itu. Agar siapapun yang di dekatmu pun ikut nyaman. Termasuk aku. Jika aku masih kau anggap menjadi kakakmu.


17/04/2012 15:26