Showing posts with label disabilitas. Show all posts
Showing posts with label disabilitas. Show all posts

Wednesday, April 25, 2012

LOMBA MENULIS CERITA atau ESAI "WHAT WILL I BE"?

lomba menulis cerita


Helo, blogger! Bagi yang suka menulis, ada info lomba menulis nih. Hadiahnya jutaan, lho. Silahkan cek di foto. Kalau kurang jelas, silahkan baca infonya di bawah ini.

Ungkapkan kepedulian kamu terhadap Anak-Anak Berkebutuhan Khusus dengan mengikuti LOMBA MENULIS CERITA atau ESAI "WHAT WILL I BE"?

Bagi siswa-siswi, mahasiswa, guru, orangtua, pemerhati, dan masyarakat yang kreatif dan suka mengarang, yuk ikutan lomba karya tulis yang diadakan College of Allied Educators (CAE) Indonesia. Setiap karya yang dikirimkan akan disumbangkan untuk mendukung gerakan peduli pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.

PERSYARATAN

1. Lomba ini terbuka untuk umum.
2. Tidak ada batasan usia.
3. Tidak dipungut biaya.
4. Karya dikirimkan dalam bentuk artikel (hardcopy) dengan mencantumkan nama, alamat lengkap dan nomor telepon yang bisa dihubingi di bagian belakang lembar tulisan/ atau lembar berbeda.
5. Karya dimasukan ke dalam amplop dan dikirim ke alamat:
College of Allied Educators Indonesia:
Gedung Menara Kuningan Unit F2
Jl. H.R. Rasuna Said, Block X-7 Kav-5
Jakarta 12940
6. Karya paling lambat diterima panitia tanggal 12 Mei 2012 (cap pos).

KETENTUAN

1. Lomba bersifat perorangan.
2. Karya berupa karangan cerita dengan topik-topik antara lain:
- Mempersiapkan masa depan anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
- Hal terkait pengembangan potensi Anak Berkebutuhan Khusus.
- Seputar Kepedulian terhadap Anak Berkebutuhan Khusus
- Pentingnya peran orangtua dalam menyiapkan masa depan anak berkebutuhan khusus
- Peran guru dalam membantu tumbuh kembang dan pendidikan anak berkebutuhan khusus
- Pendidikan inklusif di Indonesia
3. Panjang tulisan 1000 - 1200 kata. Diketik di kertas A4, jenis Times New Roman, ukuran 12, spasi 1,5.
4. Karya belum pernah diikutsertakan dalam lomba sejenis dan atau belum pernah dipublikasikan di berbagai media, cetak maupun online (blog, wesite, dsb).
5. Karya yang telah diterima panitia menjadi hak milik panitia penyelenggara.
6. Panitia berhak mempublikasikan karya pemenang di media massa dan dalam materi promosi College of Allied Educators Indonesia.
7. Pemenang akan menerima surat resmi dari panitia lomba dan diumumkan pada tanggal 31 Mei 2012 melalui www.cae-indonesia.com atau www.hopeindonesia.org
8. Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
9. HADIAH bagi pemenang:
- Juara 1 uang tunai Rp.5.000.000 dan plakat
- Juara 2 uang tunai Rp.3.000.000 dan plakat
- Juara 3 uang tunai Rp.2.000.000 dan plakat

Informasi lebih lanjut silahkan hubungi :
College of Allied Educators 
Telp. (021) 33006177,  (021) 30015796, 087881658545
E-mail: cae.indonesia@yahoo.com




Saturday, December 3, 2011

Moment 3 Desember 2011


Tiga desember dua ribu sebelas. Angka keramatkah? Oh, tidak kawan!. Justru aku merangkum banyak cerita di hari ke 3 bulan desember tahun ini. 

Moment pertama.
Saat pagi tadi saya sedang beli es krim, ada telpon dari nomor yang tak saya kenali. Sewaktu saya angkat, ternyata ada paket dari Akhi Dirman.  3 Buku antologi kasih yang memuat karya saya dengan 29 kontributor lainnya. Buku yang menceritakan kisah inspiratif almarhumah sahabat saya. Hmm, membacanya, membuat saya teringat masa-masa awal perkenalan kami. Persahabatan yang membawa kisah indah, hingga akhir perjalanannya. Friend to the End, adalah judul buku antologi kasih ini.
 Selanjutnya, setelah ekpedisi pertama undur diri. Masuk lagi ekspedisi berikutnya ke asrama saya. kata ibu asrama, “ lagi panen buku non?” Saya hanya senyum-senym saja. Ekspedisi yang ke dua, ternyata membawa paket kiriman dari Leutika Publisher. Waw, tak tanggung-tanggung. 60 buku dari Leutika  menjadi pindah lokasi ke asrama saya. yang ada sekarang kamar saya mirip seperti mini library. *meskipun sementara, ke 60 buku ini menginap di kamar saya, karena akan menjadi milik para pemenang lomba Flp Wilayah Lampung, tapi saya bahagia. Dan semakin bercita-cita, bisa memiliki personal library*
Moment ke 2.

3 Desember 2011 adalah hari yang dicanangkan untuk pesta blogger nasional. Yang konon Pesta Blogger ini sudah berubah nama menjadi pesta ON|OFF -online onfline. Pesta blogger ini adalah ultah blogger nasional yang ke 3 sejak diadakan 2009 silam. Pesta blogger yang berlangsung mulai hari ini bertempat di Rasuna Epicentrum Walk, Jakarta,  dihadiri oleh blogger se-Indonesia dan beberapa blogger dari asia tenggara. Sayangnya, saya tak ikut dalam gebyaran pesta blogger kali ini. Berharap pesta blogger tahun depan diselenggarakan di Lampung, jadi saya bisa ikutan ^_^ 

Moment ke 3

3 Desember 2011 adalah hari penyandang cacat internasional. Sekarang juga sudah berubah nama menjadi hari disabilitas. Disabilitas dianggap lebih elegan dibanding dengan HaPenCa. Untuk campaign momentum ini, saya buat event kecil-kecilan di Group,  dan pengumumannya juga hari ini. Siapa yang menang? Tunggu saja ya ^_^

Moment ke 4.

3 Desember 2011 adalah moment paling sakral bagi sahabat saya. keduanya adalah patner ketika kami berada dalam satu ranah organisasi yang sama. Pak sekjend dengan bu staf ahli kebijakan publik hari ini melangsungkan akad nikah ^^. Barokallahu laka wa baroka ‘alaika wajama’a bainakumma fii khair.

Moment ke 5.

Rapat FLP. Hari ini rapat fiksasi jelang hari H, pelaksanaan gelaran milad flp lampung tanggal 11 Desember nanti. Hahai, rapat kali ini banyak trouble. Ada jeda sejenak dengan kehadiran bocah kecil yang sepertinya cari perhatian sehingga rapat menjadi kurang kondusif.  Terpaksalah kami harus move dari rektorat menuju ke mutar-mushala tarbiyah fakultas pertanian untuk melanjutkan rapat.

Moment ke 6.
Sajada. Ba’da rapat flp, saya beserta beberapa FLPers yang masih tersisa, segera menuju ke @ radio. Membedah salah satu puisi dari flpers. Yang dibukukan dalam antologi puisi kunang-kunang flp lampung yang diterbitkan di Leutika Prio .  Dan sengaja sekali tadi, kami ngiklan gratis tentang event gelaran milad flp, sewaktu sajada. Hehehe *mumpung banget ya*

Moment ke 7
SYUMITY 2011. Di group ini, saya akan memberikan kejutan spesial bagi para member di group ini. Apakah kejutannya? Tunggu saja nanti.

At The Last Moment (Moment ke 8)
Calon peserta lomba flp, malem-malem ke asrama, dianter bapaknya, buat nyerahin naskah lomba. Wah subhanallah. Terharuuu T.T 


Ah, rasanya, lengkap sudah moment yang sempat terekam di 3 Desember 2011. Ini momentku, mana momentmu? Sila ikutan share ya ^^


Bandar Lampung, 3 Desember 2011
Pukul 18:40 wib


Saturday, November 26, 2011

Cerpen : Sepi (yang tak lagi) Sunyi


Sepi (yang tak lagi) Sunyi
~Tri Lego Indah F N~

Hariku sunyi. Ini adalah babak baru dari sejarah hidupku. Entah bagaimana awalnya akupun tak tahu. Lamat-lamat, keramaian itu tak bisa lagi ku nikmati. Ceracau burung di pagi hari ataupun lengkingan panggilan ibu, tak lagi bisa aku dengar.  Aku terpekur dalam duniaku yang baru. Dunia sunyi. 

Aku baru menyadarinya pagi ini. Setelah ibu masuk ke kamarku sambil memandangiku penuh tanya. Ku lihat bibirnya bergerak-gerak. Bisa ku pastikan ibu sedang berbicara kepadaku. Tapi tak satupun ucapannya sampai ke telingaku. Aku membesarkan pandangan mataku. Mulai mencermati setiap kata yang keluar dari gerak bibirnya. Aku tak sanggup. Dan segera aku memeluk ibu.

“Aku tak bisa mendengar bu,”kataku lirih saat aku rengkuh dalam pelukan ibu.

Ibu terbelalak tak percaya. Beliau terlihat kaget dan sangat shock dengan kenyataan yang baru saja diterimanya. Putra kebanggaannya kini tak lagi bisa mendengar. Dirinya lemas, bulir bening terjun bebas membasahi raut mukanya yang menua dimakan usia. Tapi segera ia mengusap air matanya, dan merengkuhku dengan penuh kasih.

***
Aku masih kelas lima sekolah dasar. Sejak hari itu aku memutuskan untuk berhenti sekolah. Aku masih shock, bingung dan belum menyesuaikan diri. Hari-hariku hampa. Aku hanya berkawan dengan sunyi. Aku masih belum bisa menerima takdirku. Aku tuli di usiaku yang sudah 11 tahun. Rasanya hidupku menjadi tak berguna. Ingin mati saja aku.

Pernah suatu hari, pak Busyro, kepala sekolah dasar negeri tempatku belajar menyarankan kepada bapak untuk menyekolahkan aku ke Sekolah Luar Biasa di Kemiling. Bapak hanya mengiyakan, tanpa menanggapinya lebih jauh. Uang dari mana, bapak menyekolahkan aku ke sana. SPP tiap bulan,  belum lagi lokasi yang sangat jauh dari rumahku yang berada di desa pedalaman, menambah lagi beban aku harus di asramakan. 

Hatiku semakin miris. Batinku menjerit. Ingin aku protes kepada Tuhan. Begitu tegakah Tuhan kepadaku?. Aku hanya bisa merutuki nasibku yang sangat malang. Oh Tuhan...

***
Ini sudah tahun ke dua, aku tak lagi sekolah. Hari-hariku, ku gunakan membantu bapak angon ternak milik tetangga. Gaduh sapi, begitu istilah yang biasa kami kenal ketika kami merawat ternak milik tetangga. Setelah sapi itu nanti melahirkan, maka jatah sapi yang lahir itu akan menjadi milik kami. Begitu terus bergantian. Dari hasil gaduh sapi itu, kini kami sudah punya dua sapi. Satu betina, dan satu jantan. Bapak menugasiku untuk merawat dua sapi itu. Aku iyakan tugas dari bapak. Dengan menggembala dua sapi itu, cukuplah mereka bisa menghibur kesepianku membunuh waktu. 

Di kesendirianku, sambil angon sapi, aku gunakan untuk membaca buku. Buku yang ku beli bersama Mamat sahabatku. Saat sekolah dulu, aku memang sangat suka membaca. Oleh teman-temanku aku dijuluki si kutu buku.
Mamat adalah rekan sebayaku. Rumahnya di seberang desaku. Pertamakali kami bertemu, saat kami sama-sama menggembala sapi di lapangan luas sebelah barat sekolah dasar negeri tempat Mamat dulu bersekolah.
Oiya, aku belum bercerita dari mana kami mendapat buku itu. Kami membeli buku recycle di toko buku yang letaknya di sebelah timur pasar tradisional, sekitar 7 km  jaraknya dari rumah kami. Kami ke sana menggunakan sepeda jengki  milik bapak, yang biasa digunakan untuk mencari rumput.
Mamat sahabat yang sangat pengertian denganku. Dia selalu menganggap aku layaknya anak normal seperti dirinya. Bukan sebagai seorang anak yang cacat, dengan ketulian yang kini aku derita. Mamat selalu menghadapkan mukanya kepadaku setiap kali hendak mengajakku bicara. Dia juga memperlambat gerakan bibirnya agar aku bisa mencerna apa yang ia ingin sampaikan kepadaku.
 Koleksi bukuku semakin banyak. Buku-buku itu aku beli dari hasil merumputkan ternak milik tetangga. Tetanggaku yang seorang pegawai negeri tak ada waktu mencari rumput sendiri. Sehingga beliau menawariku untuk mencarikan rumput ternak miliknya. Lumayan, dalam seminggu aku diberi upah lima puluh ribu. Awalnya, uang hasil merumput aku berikan pada ibu. Tapi ibu menolaknya, dan memintaku untuk menyimpannya sendiri. Untuk ditabung. Aku menuruti saran ibu. Uang hasil merumput aku simpan di celengan bambu yang bapak buatkan untukku. Celengannya sangat mirip dengan kentongan yang biasa dipakai kentongan saat bapak-bapak ronda malam.
Setiap dua minggu sekali aku rutin membeli buku. Mbak Lego, yang menjaga toko buku itu selalu menyambut kedatanganku. Aku menjadi pelanggan setia toko buku Litera itu. Pernah suatu kali mbak Lego menghadiahi aku 5 buku kumpulan puisi Hasan Aspahani. Bahkan mbak Lego juga mengizinkan aku membaca buku di sana, tanpa aku harus membelinya.
Dan aku yang saat sekolah dulu menyukai mengarang, kini kembali belajar menggunakan pena kembali. Aku mulai menulis. Pertama kali aku menulis tentang kegiatan harianku. Semacam curhat mungkin lebih tepatnya. Lama-lama, aku mulai mencoba menulis puisi, dan cerpen karanganku sendiri. Aktivitas ini ku lakukan ketika selesai merumput ataupun menggembala sapi. Kadang, di rumah, sehabis shalat isya, aku juga masih melanjutkan tulisanku, dan kemudian membacanya. Seringkali aku tertidur saat sedang membaca tulisanku. Buku masih dalam posisi tertelungkup di wajahku
Mamat, adalah satu-satunya sahabat yang tahu aktivitas baruku. Mamat selalu membaca tulisan yang ku buat. Berulangkali Ia memuji tulisanku. Dan terus menyemangatiku untuk menulis. Aku mengiyakan saran Mamat. Aku menjadi semakin rajin menulis. Hingga suatu saat, Mamat menginformasikan kepadaku, bahwa di sekolahnya sedang ada lomba menulis. Untuk menyambut hari pahlawan, 10 November nanti.  Lomba tersebut diperuntukkan bagi siapapun yang berusia 11-14 tahun. Dan event ini, adalah perlombaan setingkat kabupaten.  Dan aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Secara, usiaku masih 13 tahun. Jadi, aku semangat untuk mengikutinya.
Seluruh peserta lomba diwajibkan untuk datang pada hari pengumuman. Sekaligus menyaksikan pertunjukkan drama yang dimainkan oleh siswa-siswi SMP N 2 Way Seputih. Ku lihat di sana, Mamat ikut berperan sebagai salah satu pahlawan. Tepatnya, Mamat mendapat peran sebagai jenderal Sudirman. Aku ikut menikmati rangkaian acara yang dihelat sekolah itu, acara sangat meriah dan ramai. Hingga sampailah  di acara yang ditunggu oleh para peserta lomba. Aku ikut dua jenis lomba. Cerpen dan puisi. Tak banyak berharap, bisa ikut serta saja aku sudah sangat senang.

Seusai tampil, Mamat segera mendatangiku. Kami berbincang cukup hangat. Sampai kemudian panitia lomba mengumumkan juara cipta puisi dan cerpen. Mamat terus menyemangatiku, dan optimis bahwa aku bakal menjadi salah satu juaranya. Mulutku komat kamit merapal do’a. Mataku sengaja ku pejamkan. Antara takut dan nervous. Maklum, baru pertama kali aku ikut lomba.
Mamat menepuk pundakku, dan memberikan selamat kepadaku. Oh Tuhan? Benarkah aku tidak bermimpi? Mamat mencubit pipiku yang gembil, dan memberitahuku bahwa aku menjadi juara satu puisi dan juara dua cerpen. Oh Tuhan, aku masih tak percaya. Mamat segera memintaku bergegas ke podium untuk menerima thropy dan hadiah lainnya. Ku peluk Mamat seusai aku turun dari podium. Terimakasihku tiada terkira aku sampaikan kepada Mamat, sahabat terbaikku.
Hari-hariku semakin penuh keoptimisan. Aku sangat beruntung memiliki orang tua dan sahabat yang selalu memotivasiku. Ternyata, kabar aku menang lomba tersebut, terdengar pula di sekolah dasar negeri tempat aku menuntut ilmu dahulu. Dan pak Busyro memintaku untuk kembali bersekolah di sana. Meski usiaku sudah tiga belas tahun, pak Busyro masih memberikan kesempatan padaku bersekolah di bangku kelas 6. Aku bersama dengan adik-adik kelasku yang baru berusia 11-12 tahun. Aku berusaha tidak minder dan berusaha menyesuaikan diri dengan mereka.
Ujian nasional sudah di ambang pintu. Aku kembali rutin belajar sendiri. Keterbatasan pendengaranku bukan halangan aku untuk malas belajar. Justru aku sangat bekerja keras. Melahap semua buku pelajaran yang ada di perpus. Menggunakan waktu istirahat untuk  belajar di perpus, dan berlatih mengerjakan soal di sana.
Hari ini pengumuman ujian nasional. Kami berangkat ke sekolah didampingi orang tua masing-masing. Bismillah, aku yakin aku bisa lulus dengan kerja keras yang sudah aku lakukan, juga restu dari orang tua dari do’a dari sahabat-sahabatku.
Alhamdulillah, aku berhasil menjadi yang terbaik, dalam Ujian Nasional se kabupaten Lampung Tengah. Aku berhasil mengalahkan teman-temanku yang normal dan rajin mengikuti bimbel. Bukan bermaksud menyombongkan diri. Ini adalah jawaban Tuhan, bahwa ternyata, aku yang cacat ini bisa sejajar dengan mereka. Anak-anak normal yang seringkali mencibirku.
Langkahku untuk sekolah semakin mulus. Berkat prestasiku menjadi yang terbaik saat Ujian Nasional lalu, Aku mendapat beasiswa gratis dari pemerintah daerah. Aku gratis bersekolah di sekolah formal hingga aku tamat SMA. Dengan syarat prestasiku tak boleh jeblok.
Kini aku sudah menjadi siswa SMA Negeri sekolah kenamaan di kotaku. Bapak mengizinkan aku sekolah di sini karena bapak tahu aku anak yang mandiri. Hanya berbekal restu dan do’a dari orang tua, aku berangkat menyambut beasiswa untuk bersekolah di sana. SMA N 9 Bandar Lampung. Siapa yang sangsi dengan kekerenan sekolah ini. Sekolah yang menghasilkan lulusan terbaik yang selalu berhasil membawa siswa-siswinya untuk masuk perguruan tinggi kenamaan di negeri ini. UI, ITB, UGM, USU, IPB adalah perguruan tinggi benefit yang banyak menampung lulusan dari sekolah yang kini aku berkesempatan menjadi salah satu siswanya.
Bersekolah di sini, mengenalkanku pada dunia internet. Teknologi semakin canggih. Berbagai informasi yang ingin ku peroleh bisa aku dapatkan hanya dengan mengetikkan keyword di kolom search yang ada di google. Dari sanalah aku mulai tahu bahwa banyak informasi perlombaan menulis yang di publish di internet.
Suatu ketika, rekanku Eyra, meminjamkan aku majalah remaja. Story Teenlit Magazine  nama majalahnya. Sebuah majalah kenamaan yang berlokasi di Kedoya- Jakarta Barat. Sambil menikmati isinya, Eyra menunjukkiku kolom cerpen duet. Ide gila kami mulai keluar. Ya, aku dengan Eyra, sepakat untuk mencoba berkolaborasi dalam cerpen duet itu.
Tiga bulan pasca kami mengirim cerpen duet tersebut, Eyra memberiku kabar, bahwa pihak Story menelponnya, memberitakukan bahwa cerpen kami akan dimuat di edisi 26. Ahay, rasanya tak sabar segera melihat cerpen duet kami tercetak di majalah itu.
Benar saja, Filantropy  di Pucuk Meranti,  judul cerpen duet kami, ikut meramaikan isi majalah itu di edisi 26. Aku segera berkirim kabar ke rumah, dengan mengirimi SMS kepada pak Busyro, agar menyampaikan ke bapak, kalau tulisanku masuk majalah nasional. Aku ingin membuat bapak bangga memiliki anak sepertiku.
Aku semakin rutin menulis. Dengan dibantu Eyra, rekan satu kelas yang memiliki hobi sama sepertiku, aku mulai memberanikan diri merambah media. Horison, Aneka Yes!, Story, Diva, dan Leutika adalah incaran karya-karyaku selanjutnya. Alhamdulillah, beberapa karyaku bertengger di sana. Kini, namaku semakin di kenal di media. Beberapa kali profileku dimuat di koran lokal daerahku. Ternyata, inilah rahasia Tuhan, yang baru aku selami maknanya, bahwa sepi-ku kini tak lagi sunyi. Aku bisa meramaikan dunia kepenulisan dengan berkarya di tengah ‘keistimewaan’ yang  Tuhan berikan padaku. Penyandang  disabilitas yang kini punya jejak di bidang kepenulisan.
Bandar Lampung, 26 November 2011
19:48wib

Terinspirasi dari perjalanan kehidupan adikku  yang ‘istimewa’ yang kini menjadi mahasiswa fakultas sastra UGM.

Wednesday, November 23, 2011

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat



Selayaknya dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus saling membaur satu sama lain. Tapi dalam kehidupan nyatanya, masih banyak orang-orang yang dimarjinalkan oleh sebagian masyarakat kita. Paradigma kurang baik yang melekat di masyarakat tentang ‘orang-orang yang diberikan keistimewaan oleh Tuhan’ menjadikan ada kesenjangan antara masyarakat dengan mereka. Para penyandang Disabilitas adalah salah satu kaum minoritas yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat normal kebanyakan.

Sejujurnya saya miris dengan fenomena ini. Rata-rata di berbagai daerah yang ada penduduknya menyandang keistimewaan ini (Disabilitas), mereka bahkan dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Sungguh benar-benar ironis. 

Sayapun dalam satu kesempatan lalu pernah membincangkan  disabilitas ini dengan teman-teman di group Writing Revolution. Dari obrolan tersebut saya sangat salut,  karena teman-teman ada yang bersentuhan langsung dengan para penyandang disabilitas ini. Menjadi fisioterapis, serta adapula yang pernah berinteraksi langsung saat gempa padang tahun 2006 lalu. Pendapat mereka, bisa jadi keterwakilan  pandangan  masyarakat yang menyadari bahwa para disibel itu mempunyai hak yang sama dengan orang normal pada umumnya.

Mungkin banyak pula yang belum familiar dengan istilah disabilitas.  Berikut saya kutip dari situs kartunet.com mengenai definisi disabilitas. Menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang disabilitas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari: penyandang cacat fisik; penyandang cacat mental serta penyandang cacat fisik dan mental. Sementara itu, American with Disability Act (ADA) menyebut penyandang cacat dengan istilah “people/persons with disability,” yang didefinisikan sebagai individu yang mengalami impairment fisik atau mental yang membatasi satu atau lebih aktivitas utama dalam kehidupan (West, 1995). Istilah penyandang cacat dalam bahasa Indonesia mengalami perubahan menjadi penyandang disabilitas. Perubahan istilah ini muncul berdasarkan naskah kesepakatan yang ditanda tangani oleh 30 orang wakil dari berbagai lembaga dan organisasi (Kementrian Sosial, Kementrian Tenaga Kerja, Komnasham, organisasi penyandang cacat, LSM dan sebagainya) dalam sebuah pertemuan di Bandung pada tanggal 31 Maret 2010.  

Dalam kehidupan nyatanya, saya juga mempunyai keponakan penyandang tuna wicara. Dirinya mendapat ‘keistimewaan’ ini ketika berusia 6 tahun. Namun beruntung, orang tuanya yang paham, sehingga membawanya ke tempat yang tepat. Di SLB dirinya mampu bersekolah hingga setara SMA. Prestasinya sangat membanggakan. Dirinya selalu dipercaya mewakili sekolah untuk mengikuti ajang perlombaan tingkat nasional khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti dirinya. Dan pulang membawa piala kemenangan.

Dalam kehidupan saya yang lainnya, dunia maya menemukan saya dengan seorang Adik  istimewa. Awalnya saya sungguh tidak tahu jika ‎dirinya  adalah salah satu penyandang disabel. Barulah, ketika saya membaca tulisannya yang menjadi salah satu kontributor di Charity For Indonesia, saya baru ngeh jika dirinya menjadi satu dari sekian banyak anak manusia yang diberi ‘keistimewaan’ itu oleh Tuhan. Dirinya menyandang tuna rungu saat usianya 11 tahun.

 Lagu sunyi mulai berkawan dengan dirinya. Dimasa transisinya, dua tahun dirinya berhenti sekolah. Namun, di tengah ketakberdayaannya itu, ada terselip keyakinan bahwa dirinya masih memiliki Tuhan yang mendengar asanya, dan memiliki orang tua yang selalu memotivasinya. Alhasil, dirinya kembali melanjutkan sekolah dasarnya di bangku kelas 6 SD.  Dirinya bersekolah bersama dengan murid-murid normal lainnya. Tanpa dibekali alat bantu pendengaran. Dirinya hanya mengeja kalimat yang terlukis di bibir lawan bicaranya. Situasi yang rasanya imposibble, tapi dirinya mampu menerjang segala batas ketidakmungkinan itu, dengan izin Tuhan. Dirinya menjabat sebagai ketua osis dan dewan redaksi mading sekolah. Pun ujian nasional dirinya menjadi yang terbaik di sekolah mengalahkan teman-temannya yang normal. Kecerdasan dalam bidang akademik dan non akademik, membuatnya menjadi andalan sekolahnya untuk mewakili berbagai event perlombaan tingkat propinsi. 

Ketajaman imaji pulalah-efek dari rasa yang dimilikinya membuat kemampuan menulisnyapun terasah. Meskipun dengan segala keterbatasan, kini berbagai tulisannya telah menjadi kontributor buku hasil lomba dan tulisannya bertengger di berbagai media cetak lokal dan nasional. Beberapa cerpennya pernah terbit di divapress dan story. Dan yang mengejutkan, dirinyapun juga lolos SNMPTN 2011, dan kini menjadi mahasiswa strata satu fakultas sastra UGM. Sekali lagi, dirinya menempuh pendidikan bersama anak-anak normal lainnya. 

Rasanya, dua sosok ini cukup menjadi keterwakilan dari para penyandang disibilitas lainnya yang mampu menoreh prestasi ditengah keterbatasannya. Habibie Afsyah , Eko Hartono, Ramadhani Ray  adalah sosok lain yang juga sukses kendatipun mereka dalam kondisi fisik tidak sama dengan orang normal pada umumnya. Tapi  ternyata, mereka lebih luar biasa. Mengajarkan kita untuk bersyukur, mengajarkan kita untuk tetap optimis, gigih, sabar dan tak pantang menyerah dengan keadaan dan kondisi sesulit apapun. Karena mereka membuktikan sendiri, bahwa ternyata, mereka yang dikucilkan di masyarakat bahkan lingkungan keluarga mereka, namun mereka tetap survive.

Terimakasih saya haturkan kepada kartunet yang telah menginisiasi adanya kontes semi SEO dengan tema ini. Selamat pula untuk kartunet atas pencapaiannya memenangkan dana hibah Cipta Media sebesar 244 juta rupiah atas kategori “Meretas Batas Kebhinekaan Bermedia” dengan judul Kartunet.com: Media Online Sosialisasi dan Pengembangan Komunitas Pemuda dengan Disabilitas. Dan saya fikir kartunet.com adalah media online paling massive atau mungkin justru satu-satunya situs yang sangat konsen dengan para penyandang disabilitas. Gebrakan baru dan inovasi yang sangat keren saya rasa untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa para penyandang disabilitas itu bisa berkarya, berprestasi, bahkan melek teknologi-terbukti dengan adanya kartunet ini. 

Saya sangat berharap, blogger yang membaca postingan Disabilitas dan Pandangan Masyarakat ini, bisa kemudian terubah stigmanya untuk tak lagi memarjinalkan mereka yang diberi keistimewaan oleh Tuhan. 

Harapan saya, kartunet.com selalulah menjadi yang terdepan, mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa penyandang disabilitaspun bisa survive. Terus kawal isu-isu mengenai disabilitas, dan sadarkan masyarakat bahwa penyandang disabel itu istimewa!

Kontes Blogging Kartunet 2011