Showing posts with label Tulisanku. Show all posts
Showing posts with label Tulisanku. Show all posts

Friday, February 17, 2012

Cerita BuCaH Lego : Nostalgia Mengenal Dunia Literasi


Nostalgia Rekam Jejak Mengenal Dunia Literasi (Baca, Tulis dan Berkarya)
~Tri Lego Indah F N~

Aku hobi membaca semenjak masih kanak-kanak. Menurut guru Tkku, aku adalah murid termuda yang sudah fasih membaca sejak usiaku 3 tahun. Padahal dulu ibuku belum berniat mendaftarkan aku ke taman kanak-kanak, karena usia teman-teman yang masuk TK, rata-rata 4-4,5 tahun. Tapi tetap saja aku didaftarkan, tapi bukan sebagai siswa taman kanak-kanak sungguhan. Hanya sebagai elok-elok bawang-ikut-ikutan sekolah.

Walaupun elok-elok bawang, aku tetap mengikuti pelajaran dari guruku. Bahkan menurut guruku, dibanding yang lain, aku termasuk pembelajar paling cepat. Di Tkku lumayan banyak bahan bacaan. Diantaranya buku cerita dan majalah anak. Aku yang tidak terlalu suka bermain, memilih untuk membolak-balik buku bacaan itu. Di usiaku yang masih 3 tahun, aku sudah bisa membaca cerita tentang nabi-nabi,  juga cerita-cerita  di majalah bobo.  Jadilah aku sering ditugasi oleh guruku untuk menceritakan kembali kepada teman-teman sekelasku di TK, tentang cerita apa yang telah aku baca. Aku sangat senang bisa menceriterakannya dengan gaya bahasaku sendiri. Bahasa anak umur 3 tahun :D.  Oya, aku bisa cerita, karena ingatanku yang masih cukup baik. Masa-masa aku di TK masih terekam jelas dalam ingatanku.

Masa-masa di TK itulah awal mula, aku sangat menyukai dunia baca. Dan saat TK itu pulalah aku pernah ditunjuk mewakili sekolahku untuk berdeklamasi di lomba baca puisi kabupaten. Aku membacakan puisi berjudul ‘Kartini’ yang akhirnya membawaku menjadi juara ke tiga. Senang tidak terkira aku waktu itu. ^_^

Bapakku yang sangat paham dengan ‘kelahapanku’ menyukai dunia baca, selalu membawakan aku minimal 10 buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah (bapakku seorang guru di SD Negeri). Dan tentu saja aku sangat senang. Hingga saat sudah menjadi siswi sekolah dasar, hobiku membaca tak bisa enyah. Dan sampai sekarang, cerita-cerita di buku yang aku baca sewaktu sekolah dasar dulu, masih sangat aku ingat.

Tak hanya bapak, seluruh keluargaku sangat paham dengan hobiku. Sehingga, setiap moment ulang tahunku, aku selalu bahagia bila mendapat kado berupa setumpuk buku cerita. Dan saat itu, (tahun 2003), kakak perempuanku sudah resmi berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di kotaku. Dan aku masih berapa di bangku kelas 1 sekolah menengah pertama. Nah, kakakku ini pulang dengan membawa satu kotak kado, berisi jilbab dan 3 buah buku. Dan ketika kubuka, dua buku ini berbeda dengan buku yang biasa dibawa bapak. Kalau bapak biasanya buku-buku bacaan pengayaan kepribadian, seperti judulnya ‘Semangat dari Lubuk Desa’, ‘Anak yang Jujur’, ‘Sepotong Cerita Ramadhan’, ‘Bibiku Ibuku’, dll, maka kakak perempuanku ini membawakan aku sebuah novel serial berjudul ‘Puteri Milenium’ dan dua majalah yaitu Majalah Remaja Annida dan Majalah Tarbawi. Dari sanalah aku mulai mengenal nama penulis Asma Nadia dan Hely Tiana Rosa. Mbak Asma sebagai penulis serial Novel Puteri Milenium dan mbak Helvi sebagai pimpinan di Annida. Dari Annida pulalah, aku mengenal nama Forum Lingkar Pena. Karena saat itu, di Annida, disediakan rubrik khusus tentang FLP, dan juga ada formulir untuk pendaftaran bergabung di FLP. Namun karena usiaku yang masih sangat muda, jadi aku belum bisa daftar. Sedihnya T.T

Sejak saat itu, aku mulai intens mencermati nama-nama penulis yang dilahirkan dari FLP. Beberapa nama menjadi akrab terdengar di telingaku. Ketika Ayat-Ayat Cinta meledak di pasaran, baru aku sadari pula, bahwa penulisnya adalah ketua dari FLP Mesir. Dialah Habiburahman El Shirazy yang lebih akrab dipanggil kang Abik. Jadilah Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa dan Kang Abik adalah 3 nama yang pertama kali aku kenal sebagai para punggawa FLP. Berkat mengenal mereka, sedikit banyak aku mulai sangat tertarik dengan FLP. Karena buku-buku karya mereka, adalah buku yang sangat berbeda dengan buku kebanyakan. Memuat sisi religius, yang dikemas dengan tutur bahasa yang tidak saklek/kaku. 


Hingga, akhirnya, ketika aku kuliah, organisasi yang paling kuincar adalah FLP. Namun, aku tak menemukan gaungnya selama berada di kampus. Entah karena aku kurang link atau bagaimana, jadi niatku untuk bergabung di FLP harus kuurungkan. Jadilah aku malah bergabung dengan organisasi eksekutif dan legislatif kampus saat itu.
Di awal tahun 2011, aku mulai tertarik kembali ke situs jejaring sosial facebook. Dan di sanalah, aku iseng-iseng search friend, dengan mengetikkan keyword FLP Lampung, muncullah suggestion untuk mengadd Flp Wilayah Lampung. Aku segera add tak menunggu berapa lama, permintaan pertemananku segera di konfirm.
Mataku masih merunut uploud foto berupa sebuah pamflet yang dishare di wall FLP Wilayah Lampung. Aku cermati dan aku baca tulisan di sana. Waw, ternyata sedang ada open rekrutmen  anggota FLP Wilayah Lampung part 2.  Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera aku menulis di kolom komentar. Iseng-iseng, aku print screen obrolanku dengan FLP :D
 

         Jadilah aku mendaftar di FLP Wilayah Lampung dengan mengirimkan karya via email. Harap-harap cemas menunggu pengumuman, barulah 3 bulan setelah pendaftaran, namaku ikut tercantum di daftar Pengumuman Kelulusan Calon Anggota FLP Wilayah Lampung (Final). Hwaa, ternyata masih jadi calon anggota >,<. Dan setelah pertemuan perdana  calon anggota flpers ini, barulah tahu kalau ternyata sistem di sini peresmian menjadi anggota FLP, yaitu setelah mengikuti masa belajar/ kelas menulis dalam kurun waktu 3 bulan. Di sanalah akan teruji seberapa komitmen calon anggota terhadap FLP. Dan alhamdulillah,  3 bulan bisa kulewati, dan aku kini telah resmi terdaftar sebagai anggota muda FLP Wilayah Lampung.
            Selama kelas menulis, aku sedikit banyak jadi tahu mengenai teknik-teknik kepenulisan. Seperti membuat nama tokoh yang sesuai dengan karakter yang kita buat, membuat cerita anak yang tidak monoton, membuat essay, dan juga menulis puisi dengan memilih diksi yang ciamik. Semua ini aku peroleh semenjak bergabung di FLP. 

            Selama berproses sebagai anggota FLP, kami para kunang-kunang FLP Lampung, ingin mengabadikan karya dalam sebentuk buku. Hingga lahirlah satu project kumpulan puisi, yang digagas oleh salah satu pengurus. Agus Kindi. Beliaulah yang mengajak kami untuk mengumpulkan puisi ke beliau. Jadilah karya kunang-kunang FLP Lampung ini, kini telah bisa dinikmati dalam sebentuk buku berjudul Antologi Puisi : Ketika Aku Berjalan yang diterbitkan Leutika Prio. Dan itu adalah merupakan antologi puisi pertamaku bersama rekan-rekan FLP.

            11 Desember 2011, adalah milad FLP Wilayah Lampung. Dan ini adalah kali pertama,  kami para anggota baru diberikan amanah terlibat dalam kepanitiaan. Dan tak jauh beda dengan organisasi lain yang aku ikuti, aku ditempatkan sebagai koordinator acara. Jadilah aku segera menyusun plan, acara seperti apa yang akan disuguhkan di gelaran milad ke 11 FLP Lampung tersebut. Di rapat perdana, tercetuslah ide untuk menggelar launching buku-buku karya FLPers. Karena selain buku terbaru yaitu Ketika ‘Aku Berjalan’ tadi, masih banyak karya FLPers berupa buku solo maupun antologi lainnya yang telah dibukukan dan telah terbit. Jadilah agenda Lauching menjadi event parade karya FLP Wilayah Lampung. Riweh-riwehnya acara milad, bisa diintip di Behind Schene Gelaran Milad Flp Lampung

        Aku bersyukur, bisa menjadi bagian dari FLP. Karena FLP adalah rumah yang selalu ramah untuk aku datangi. Aku suka bergabung di FLP, karena di sini, aku ikut terkoneksi dengan jaringan yang dibuat FLP. Kini aku terkoneksi dengan rekan-rekanku di Luar Negeri, seperti Hongkong, Jepang,  Jerman, Mesir, Arab Saudi dan Taiwan karena berada dalam satu wadah yang sama. Forum Lingkar Pena. Meskipun karyaku masih sangat sedikit dibandingkan FLPers yang lain, aku akan selalu belajar mengupgrade tulisanku, agar kelak bisa seperti karya para pendahuluku di FLP. Dan aku akan selalu menanamkan visi mulia dari FLP, membangun Indonesia cinta membaca dan menulis serta membangun jaringan penulis berkualitas di Indonesia. Terima kasih FLP. Selamat Milad untukmu, untuk kita semua. Semoga semakin mencerahkan!
Bandar Lampung, 17 Februari 2012
At 01am

              

Sunday, November 27, 2011

Rasa Cendolku Malam Ini


Ya Allah, sungguh,  jika boleh jujur, ada bias iri di hati Hamba, melihat kebersamaan tercipta begitu indah hari ini. Keluarga besar group Diskusi Fiksi.Menulis Fiksi.Membaca Fiksi (Universal Nikko+mayokO aikO)  hari ini berkumpul untuk launching 10 buku karya cendolers. Aku sungguh iri, tak bisa hadir di tengah kebersamaan itu.

Group yang lebih dikenal sebagai group cendol-Cerita Nulis Diskusi OnLine, adalah group paling stress tapi begitu terarah dan disiplin. Postingan alay yang selalu dapat teguran tegas dan juga santun dari PPAers, Ilmu kepenulisan yang secara cuma-cuma dibagikan oleh para suker kepada kami, serta persaudaraan yang tercipta begitu hangat, membuat aku betah, sangat betah dan semakin betah berada di sana.  Bersyukurnya aku, bisa menjadi bagian dari group ini. Walaupun belum sekalipun aku bertatap muka secara langsung dengan para suker kelas cendol maupun cendolers lainnya, tapi aku merasa dekat dengan mereka.

Satu untuk semua bukan semua untuk satu, menjadikan group ini jauh dari kepentingan personal maupun golongan tertentu. Tapi, semua bersatu untuk sebuah keluarga besar bernama keluarga cendol.  Bahkan bisa dibilang, para petinggi kelas, rela mengorbankan segalanya, baik materi maupun non materi hanya untuk kami, segenap penghuni kelas cendol.

Hari ini, kemayaan itu bisa terjalin secara nyata. Keakraban tercipta tanpa rekayasa. Begitu natural, dan apa adanya. Meskipun aku hanya bisa mengeja melalui uploud foto yang ku tatap di layar netbukku, tapi, aku sangat percaya inilah bukti bahwa kemayaan itu tak berarti abstrak. Keluarga cendol sudah membuktikannya. Dengan pertemuan hari ini, di 10 buku membuka dunia.

Akupun sangat berharap, semoga Tuhan, memberiku kesempatan untuk bisa bertemu dengan keluarga besar cendol, di kemah sastra tahun depan. Aamiin

*Tuhan sesuai dengan apa yang diprasangkakan hambanya. Semoga harapanku bisa dikabulkan oleh Nya. Aaamiin.

Bandar Lampung, 27 November 2011
Pukul 23:24 wib

~di tengah demam yang tak kunjung turun~

 
kebersamaan keluarga cendol
Haru Cendol
10 Buku Cendolers+1buku kepsek yang dilaunching hari ini

Saturday, November 26, 2011

Cerpen : Sepi (yang tak lagi) Sunyi


Sepi (yang tak lagi) Sunyi
~Tri Lego Indah F N~

Hariku sunyi. Ini adalah babak baru dari sejarah hidupku. Entah bagaimana awalnya akupun tak tahu. Lamat-lamat, keramaian itu tak bisa lagi ku nikmati. Ceracau burung di pagi hari ataupun lengkingan panggilan ibu, tak lagi bisa aku dengar.  Aku terpekur dalam duniaku yang baru. Dunia sunyi. 

Aku baru menyadarinya pagi ini. Setelah ibu masuk ke kamarku sambil memandangiku penuh tanya. Ku lihat bibirnya bergerak-gerak. Bisa ku pastikan ibu sedang berbicara kepadaku. Tapi tak satupun ucapannya sampai ke telingaku. Aku membesarkan pandangan mataku. Mulai mencermati setiap kata yang keluar dari gerak bibirnya. Aku tak sanggup. Dan segera aku memeluk ibu.

“Aku tak bisa mendengar bu,”kataku lirih saat aku rengkuh dalam pelukan ibu.

Ibu terbelalak tak percaya. Beliau terlihat kaget dan sangat shock dengan kenyataan yang baru saja diterimanya. Putra kebanggaannya kini tak lagi bisa mendengar. Dirinya lemas, bulir bening terjun bebas membasahi raut mukanya yang menua dimakan usia. Tapi segera ia mengusap air matanya, dan merengkuhku dengan penuh kasih.

***
Aku masih kelas lima sekolah dasar. Sejak hari itu aku memutuskan untuk berhenti sekolah. Aku masih shock, bingung dan belum menyesuaikan diri. Hari-hariku hampa. Aku hanya berkawan dengan sunyi. Aku masih belum bisa menerima takdirku. Aku tuli di usiaku yang sudah 11 tahun. Rasanya hidupku menjadi tak berguna. Ingin mati saja aku.

Pernah suatu hari, pak Busyro, kepala sekolah dasar negeri tempatku belajar menyarankan kepada bapak untuk menyekolahkan aku ke Sekolah Luar Biasa di Kemiling. Bapak hanya mengiyakan, tanpa menanggapinya lebih jauh. Uang dari mana, bapak menyekolahkan aku ke sana. SPP tiap bulan,  belum lagi lokasi yang sangat jauh dari rumahku yang berada di desa pedalaman, menambah lagi beban aku harus di asramakan. 

Hatiku semakin miris. Batinku menjerit. Ingin aku protes kepada Tuhan. Begitu tegakah Tuhan kepadaku?. Aku hanya bisa merutuki nasibku yang sangat malang. Oh Tuhan...

***
Ini sudah tahun ke dua, aku tak lagi sekolah. Hari-hariku, ku gunakan membantu bapak angon ternak milik tetangga. Gaduh sapi, begitu istilah yang biasa kami kenal ketika kami merawat ternak milik tetangga. Setelah sapi itu nanti melahirkan, maka jatah sapi yang lahir itu akan menjadi milik kami. Begitu terus bergantian. Dari hasil gaduh sapi itu, kini kami sudah punya dua sapi. Satu betina, dan satu jantan. Bapak menugasiku untuk merawat dua sapi itu. Aku iyakan tugas dari bapak. Dengan menggembala dua sapi itu, cukuplah mereka bisa menghibur kesepianku membunuh waktu. 

Di kesendirianku, sambil angon sapi, aku gunakan untuk membaca buku. Buku yang ku beli bersama Mamat sahabatku. Saat sekolah dulu, aku memang sangat suka membaca. Oleh teman-temanku aku dijuluki si kutu buku.
Mamat adalah rekan sebayaku. Rumahnya di seberang desaku. Pertamakali kami bertemu, saat kami sama-sama menggembala sapi di lapangan luas sebelah barat sekolah dasar negeri tempat Mamat dulu bersekolah.
Oiya, aku belum bercerita dari mana kami mendapat buku itu. Kami membeli buku recycle di toko buku yang letaknya di sebelah timur pasar tradisional, sekitar 7 km  jaraknya dari rumah kami. Kami ke sana menggunakan sepeda jengki  milik bapak, yang biasa digunakan untuk mencari rumput.
Mamat sahabat yang sangat pengertian denganku. Dia selalu menganggap aku layaknya anak normal seperti dirinya. Bukan sebagai seorang anak yang cacat, dengan ketulian yang kini aku derita. Mamat selalu menghadapkan mukanya kepadaku setiap kali hendak mengajakku bicara. Dia juga memperlambat gerakan bibirnya agar aku bisa mencerna apa yang ia ingin sampaikan kepadaku.
 Koleksi bukuku semakin banyak. Buku-buku itu aku beli dari hasil merumputkan ternak milik tetangga. Tetanggaku yang seorang pegawai negeri tak ada waktu mencari rumput sendiri. Sehingga beliau menawariku untuk mencarikan rumput ternak miliknya. Lumayan, dalam seminggu aku diberi upah lima puluh ribu. Awalnya, uang hasil merumput aku berikan pada ibu. Tapi ibu menolaknya, dan memintaku untuk menyimpannya sendiri. Untuk ditabung. Aku menuruti saran ibu. Uang hasil merumput aku simpan di celengan bambu yang bapak buatkan untukku. Celengannya sangat mirip dengan kentongan yang biasa dipakai kentongan saat bapak-bapak ronda malam.
Setiap dua minggu sekali aku rutin membeli buku. Mbak Lego, yang menjaga toko buku itu selalu menyambut kedatanganku. Aku menjadi pelanggan setia toko buku Litera itu. Pernah suatu kali mbak Lego menghadiahi aku 5 buku kumpulan puisi Hasan Aspahani. Bahkan mbak Lego juga mengizinkan aku membaca buku di sana, tanpa aku harus membelinya.
Dan aku yang saat sekolah dulu menyukai mengarang, kini kembali belajar menggunakan pena kembali. Aku mulai menulis. Pertama kali aku menulis tentang kegiatan harianku. Semacam curhat mungkin lebih tepatnya. Lama-lama, aku mulai mencoba menulis puisi, dan cerpen karanganku sendiri. Aktivitas ini ku lakukan ketika selesai merumput ataupun menggembala sapi. Kadang, di rumah, sehabis shalat isya, aku juga masih melanjutkan tulisanku, dan kemudian membacanya. Seringkali aku tertidur saat sedang membaca tulisanku. Buku masih dalam posisi tertelungkup di wajahku
Mamat, adalah satu-satunya sahabat yang tahu aktivitas baruku. Mamat selalu membaca tulisan yang ku buat. Berulangkali Ia memuji tulisanku. Dan terus menyemangatiku untuk menulis. Aku mengiyakan saran Mamat. Aku menjadi semakin rajin menulis. Hingga suatu saat, Mamat menginformasikan kepadaku, bahwa di sekolahnya sedang ada lomba menulis. Untuk menyambut hari pahlawan, 10 November nanti.  Lomba tersebut diperuntukkan bagi siapapun yang berusia 11-14 tahun. Dan event ini, adalah perlombaan setingkat kabupaten.  Dan aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Secara, usiaku masih 13 tahun. Jadi, aku semangat untuk mengikutinya.
Seluruh peserta lomba diwajibkan untuk datang pada hari pengumuman. Sekaligus menyaksikan pertunjukkan drama yang dimainkan oleh siswa-siswi SMP N 2 Way Seputih. Ku lihat di sana, Mamat ikut berperan sebagai salah satu pahlawan. Tepatnya, Mamat mendapat peran sebagai jenderal Sudirman. Aku ikut menikmati rangkaian acara yang dihelat sekolah itu, acara sangat meriah dan ramai. Hingga sampailah  di acara yang ditunggu oleh para peserta lomba. Aku ikut dua jenis lomba. Cerpen dan puisi. Tak banyak berharap, bisa ikut serta saja aku sudah sangat senang.

Seusai tampil, Mamat segera mendatangiku. Kami berbincang cukup hangat. Sampai kemudian panitia lomba mengumumkan juara cipta puisi dan cerpen. Mamat terus menyemangatiku, dan optimis bahwa aku bakal menjadi salah satu juaranya. Mulutku komat kamit merapal do’a. Mataku sengaja ku pejamkan. Antara takut dan nervous. Maklum, baru pertama kali aku ikut lomba.
Mamat menepuk pundakku, dan memberikan selamat kepadaku. Oh Tuhan? Benarkah aku tidak bermimpi? Mamat mencubit pipiku yang gembil, dan memberitahuku bahwa aku menjadi juara satu puisi dan juara dua cerpen. Oh Tuhan, aku masih tak percaya. Mamat segera memintaku bergegas ke podium untuk menerima thropy dan hadiah lainnya. Ku peluk Mamat seusai aku turun dari podium. Terimakasihku tiada terkira aku sampaikan kepada Mamat, sahabat terbaikku.
Hari-hariku semakin penuh keoptimisan. Aku sangat beruntung memiliki orang tua dan sahabat yang selalu memotivasiku. Ternyata, kabar aku menang lomba tersebut, terdengar pula di sekolah dasar negeri tempat aku menuntut ilmu dahulu. Dan pak Busyro memintaku untuk kembali bersekolah di sana. Meski usiaku sudah tiga belas tahun, pak Busyro masih memberikan kesempatan padaku bersekolah di bangku kelas 6. Aku bersama dengan adik-adik kelasku yang baru berusia 11-12 tahun. Aku berusaha tidak minder dan berusaha menyesuaikan diri dengan mereka.
Ujian nasional sudah di ambang pintu. Aku kembali rutin belajar sendiri. Keterbatasan pendengaranku bukan halangan aku untuk malas belajar. Justru aku sangat bekerja keras. Melahap semua buku pelajaran yang ada di perpus. Menggunakan waktu istirahat untuk  belajar di perpus, dan berlatih mengerjakan soal di sana.
Hari ini pengumuman ujian nasional. Kami berangkat ke sekolah didampingi orang tua masing-masing. Bismillah, aku yakin aku bisa lulus dengan kerja keras yang sudah aku lakukan, juga restu dari orang tua dari do’a dari sahabat-sahabatku.
Alhamdulillah, aku berhasil menjadi yang terbaik, dalam Ujian Nasional se kabupaten Lampung Tengah. Aku berhasil mengalahkan teman-temanku yang normal dan rajin mengikuti bimbel. Bukan bermaksud menyombongkan diri. Ini adalah jawaban Tuhan, bahwa ternyata, aku yang cacat ini bisa sejajar dengan mereka. Anak-anak normal yang seringkali mencibirku.
Langkahku untuk sekolah semakin mulus. Berkat prestasiku menjadi yang terbaik saat Ujian Nasional lalu, Aku mendapat beasiswa gratis dari pemerintah daerah. Aku gratis bersekolah di sekolah formal hingga aku tamat SMA. Dengan syarat prestasiku tak boleh jeblok.
Kini aku sudah menjadi siswa SMA Negeri sekolah kenamaan di kotaku. Bapak mengizinkan aku sekolah di sini karena bapak tahu aku anak yang mandiri. Hanya berbekal restu dan do’a dari orang tua, aku berangkat menyambut beasiswa untuk bersekolah di sana. SMA N 9 Bandar Lampung. Siapa yang sangsi dengan kekerenan sekolah ini. Sekolah yang menghasilkan lulusan terbaik yang selalu berhasil membawa siswa-siswinya untuk masuk perguruan tinggi kenamaan di negeri ini. UI, ITB, UGM, USU, IPB adalah perguruan tinggi benefit yang banyak menampung lulusan dari sekolah yang kini aku berkesempatan menjadi salah satu siswanya.
Bersekolah di sini, mengenalkanku pada dunia internet. Teknologi semakin canggih. Berbagai informasi yang ingin ku peroleh bisa aku dapatkan hanya dengan mengetikkan keyword di kolom search yang ada di google. Dari sanalah aku mulai tahu bahwa banyak informasi perlombaan menulis yang di publish di internet.
Suatu ketika, rekanku Eyra, meminjamkan aku majalah remaja. Story Teenlit Magazine  nama majalahnya. Sebuah majalah kenamaan yang berlokasi di Kedoya- Jakarta Barat. Sambil menikmati isinya, Eyra menunjukkiku kolom cerpen duet. Ide gila kami mulai keluar. Ya, aku dengan Eyra, sepakat untuk mencoba berkolaborasi dalam cerpen duet itu.
Tiga bulan pasca kami mengirim cerpen duet tersebut, Eyra memberiku kabar, bahwa pihak Story menelponnya, memberitakukan bahwa cerpen kami akan dimuat di edisi 26. Ahay, rasanya tak sabar segera melihat cerpen duet kami tercetak di majalah itu.
Benar saja, Filantropy  di Pucuk Meranti,  judul cerpen duet kami, ikut meramaikan isi majalah itu di edisi 26. Aku segera berkirim kabar ke rumah, dengan mengirimi SMS kepada pak Busyro, agar menyampaikan ke bapak, kalau tulisanku masuk majalah nasional. Aku ingin membuat bapak bangga memiliki anak sepertiku.
Aku semakin rutin menulis. Dengan dibantu Eyra, rekan satu kelas yang memiliki hobi sama sepertiku, aku mulai memberanikan diri merambah media. Horison, Aneka Yes!, Story, Diva, dan Leutika adalah incaran karya-karyaku selanjutnya. Alhamdulillah, beberapa karyaku bertengger di sana. Kini, namaku semakin di kenal di media. Beberapa kali profileku dimuat di koran lokal daerahku. Ternyata, inilah rahasia Tuhan, yang baru aku selami maknanya, bahwa sepi-ku kini tak lagi sunyi. Aku bisa meramaikan dunia kepenulisan dengan berkarya di tengah ‘keistimewaan’ yang  Tuhan berikan padaku. Penyandang  disabilitas yang kini punya jejak di bidang kepenulisan.
Bandar Lampung, 26 November 2011
19:48wib

Terinspirasi dari perjalanan kehidupan adikku  yang ‘istimewa’ yang kini menjadi mahasiswa fakultas sastra UGM.