Showing posts with label Kontes Semi SEO. Show all posts
Showing posts with label Kontes Semi SEO. Show all posts

Tuesday, December 6, 2011

Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI



Seandainya saya Menjadi Anggota DPD RI, dengan posisi saya yang masih sebagai seorang penulis freelance, tentu saja saya akan menyampaikan aspirasi rekan-rekan sesama penulis. Banyak diantara kami kebingungan saat membuat kartu tanda penduduk. Karena pilihan pekerjaan sebagai penulis tidak menjadi option yang ditawarkan di daftar pekerjaan. Sehingga seringkali profesi sebagai penulis, di KTP tercantum sebagai wirausaha. Padahal beda sekali definisi antara wirausaha dengan penulis.

Seandainya saya Menjadi Anggota DPD RI, saya akan membuat profesi penulis disyahkan di KTP. Karena bagaimanapun, penulis berhak mencantumkan profesinya itu. Kadang saya menjadi bertanya-tanya, apakah profesi yang dimaksudkan masuk dalam daftar profesi di KTP adalah pekerjaan yang mengharuskan di kantor, jadwal yang tetap misal satu minggu full, atau hanya satu pekan, gaji yang ada tiap bulan, dan seterusnya. Rasanya menjadi tidak adil jika pandangan hanya sesempit itu. Maka, jika  saya menjadi anggota DPD RI, saya akan melegalkan para penulis menuliskan pekerjaannya dengan profesi penulis.

Seandainya saya Menjadi Anggota DPD RI, saya akan membantu anak-anak di daerah pedalaman untuk bisa punya akses belajar. Memberikan guru-guru terbaik yang saya tempatkan di sana. Memfasilitasi sarana dan prasarana mereka untuk nyaman belajar. Saya akan memberikan tunjangan gaji yang cukup untuk para guru relawan terbaik yang sudah berkenan mengabdikan diri mereka untuk membagi ilmunya di daerah pedalaman.

Seandainya saya Menjadi Anggota DPD RI, saya akan bekerjasama dengan berbagai komunitas kepenulisan online yang juga massive di dunia offline, seperti WRITING REVOLUTION, Diskusi Fiksi.Menulis Fiksi.Membaca Fiksi (Universal Nikko+mayokO aikO), Leutika Reading Society (LRS), dll.  Saya akan memassivekan komunitas diskusi dan baca di seluruh daerah yang ada di Indonesia. Selama ini, budaya diskusi dan baca masih sangat minim. Orang-orang penggiat literasi ini masih jadi mahluk langka di bumi pertiwi ini. Maka, Seandainya saya Menjadi Anggota DPD RI, saya akan menggalakkan komunitas ini. Pun, saya ingin komunitas ini, mengadakan perpus gratis dan perpus keliling bagi mereka yang kesulitan akses buku dan membeli buku. Bukankah buku adalah jendela ilmu. Saya ingin kembali menggalakkan gerakan baca buku nasional. Akses buku harus sampai ke daerah pedalaman. Saya akan terus memonitor keterjangkauan akses buku ini. Saya tak akan segan terjun langsung ke daerah untuk memastikan akses buku ini memang mudah dijangkau di daerah. 


Inilah harapan saya. Berawal dari basic saya sebagai seorang penulis freelance dan pendidikan saya sebagai seorang mahasiwa FKIP, maka inilah hal yang ingin saya lakukan seandainya saya Menjadi Anggota DPD RI.  Dan inilah sesuatu ‘kecil’ yang saya fikir bisa berefek besar bagi Indonesia. Menghargai para penulis dengan mencantumkan profesi mereka di daftar pekerjaan di Kartu Tanda Penduduk, juga menggeliatkan dunia baca tulis di seluruh daerah di Indonesia melalui beberapa komunitas yang sudah mengawali menjadi pioner gerakan ini. Karena semua dimulai dari kesadaran, bahwa satu tulisan bisa merubah dunia. Tulisan itu bisa kita peroleh tentunya dari membaca. Jika semuanya bisa sinergi, (Penulis, birokrat, Penggiat Literasi dan Masyarakat umum), maka gerakan indonesia cerdas dengan membaca, optimis akan tercapai.
Semoga!
Bandar Lampung, 07 Desember 2011  
Artikel : 489 kata
Biodata:
Tri Lego Indah FN, mahasiswa FKIP semester 7. Penggiat dunia literasi. Ketua LRS Chapter Lampung, korwil Cerita Nulis Diskusi Online Wilayah Lampung Diskusi Fiksi.Menulis Fiksi.Membaca Fiksi (Universal Nikko+mayokO aikO), Anggota WRITING REVOLUTION, Anggota  Flp Wilayah Lampung. Pernah menjadi staf ahli komisi advokasi dan perundang-undangan Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Lampung.
 

Wednesday, November 23, 2011

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat



Selayaknya dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus saling membaur satu sama lain. Tapi dalam kehidupan nyatanya, masih banyak orang-orang yang dimarjinalkan oleh sebagian masyarakat kita. Paradigma kurang baik yang melekat di masyarakat tentang ‘orang-orang yang diberikan keistimewaan oleh Tuhan’ menjadikan ada kesenjangan antara masyarakat dengan mereka. Para penyandang Disabilitas adalah salah satu kaum minoritas yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat normal kebanyakan.

Sejujurnya saya miris dengan fenomena ini. Rata-rata di berbagai daerah yang ada penduduknya menyandang keistimewaan ini (Disabilitas), mereka bahkan dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Sungguh benar-benar ironis. 

Sayapun dalam satu kesempatan lalu pernah membincangkan  disabilitas ini dengan teman-teman di group Writing Revolution. Dari obrolan tersebut saya sangat salut,  karena teman-teman ada yang bersentuhan langsung dengan para penyandang disabilitas ini. Menjadi fisioterapis, serta adapula yang pernah berinteraksi langsung saat gempa padang tahun 2006 lalu. Pendapat mereka, bisa jadi keterwakilan  pandangan  masyarakat yang menyadari bahwa para disibel itu mempunyai hak yang sama dengan orang normal pada umumnya.

Mungkin banyak pula yang belum familiar dengan istilah disabilitas.  Berikut saya kutip dari situs kartunet.com mengenai definisi disabilitas. Menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang disabilitas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari: penyandang cacat fisik; penyandang cacat mental serta penyandang cacat fisik dan mental. Sementara itu, American with Disability Act (ADA) menyebut penyandang cacat dengan istilah “people/persons with disability,” yang didefinisikan sebagai individu yang mengalami impairment fisik atau mental yang membatasi satu atau lebih aktivitas utama dalam kehidupan (West, 1995). Istilah penyandang cacat dalam bahasa Indonesia mengalami perubahan menjadi penyandang disabilitas. Perubahan istilah ini muncul berdasarkan naskah kesepakatan yang ditanda tangani oleh 30 orang wakil dari berbagai lembaga dan organisasi (Kementrian Sosial, Kementrian Tenaga Kerja, Komnasham, organisasi penyandang cacat, LSM dan sebagainya) dalam sebuah pertemuan di Bandung pada tanggal 31 Maret 2010.  

Dalam kehidupan nyatanya, saya juga mempunyai keponakan penyandang tuna wicara. Dirinya mendapat ‘keistimewaan’ ini ketika berusia 6 tahun. Namun beruntung, orang tuanya yang paham, sehingga membawanya ke tempat yang tepat. Di SLB dirinya mampu bersekolah hingga setara SMA. Prestasinya sangat membanggakan. Dirinya selalu dipercaya mewakili sekolah untuk mengikuti ajang perlombaan tingkat nasional khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti dirinya. Dan pulang membawa piala kemenangan.

Dalam kehidupan saya yang lainnya, dunia maya menemukan saya dengan seorang Adik  istimewa. Awalnya saya sungguh tidak tahu jika ‎dirinya  adalah salah satu penyandang disabel. Barulah, ketika saya membaca tulisannya yang menjadi salah satu kontributor di Charity For Indonesia, saya baru ngeh jika dirinya menjadi satu dari sekian banyak anak manusia yang diberi ‘keistimewaan’ itu oleh Tuhan. Dirinya menyandang tuna rungu saat usianya 11 tahun.

 Lagu sunyi mulai berkawan dengan dirinya. Dimasa transisinya, dua tahun dirinya berhenti sekolah. Namun, di tengah ketakberdayaannya itu, ada terselip keyakinan bahwa dirinya masih memiliki Tuhan yang mendengar asanya, dan memiliki orang tua yang selalu memotivasinya. Alhasil, dirinya kembali melanjutkan sekolah dasarnya di bangku kelas 6 SD.  Dirinya bersekolah bersama dengan murid-murid normal lainnya. Tanpa dibekali alat bantu pendengaran. Dirinya hanya mengeja kalimat yang terlukis di bibir lawan bicaranya. Situasi yang rasanya imposibble, tapi dirinya mampu menerjang segala batas ketidakmungkinan itu, dengan izin Tuhan. Dirinya menjabat sebagai ketua osis dan dewan redaksi mading sekolah. Pun ujian nasional dirinya menjadi yang terbaik di sekolah mengalahkan teman-temannya yang normal. Kecerdasan dalam bidang akademik dan non akademik, membuatnya menjadi andalan sekolahnya untuk mewakili berbagai event perlombaan tingkat propinsi. 

Ketajaman imaji pulalah-efek dari rasa yang dimilikinya membuat kemampuan menulisnyapun terasah. Meskipun dengan segala keterbatasan, kini berbagai tulisannya telah menjadi kontributor buku hasil lomba dan tulisannya bertengger di berbagai media cetak lokal dan nasional. Beberapa cerpennya pernah terbit di divapress dan story. Dan yang mengejutkan, dirinyapun juga lolos SNMPTN 2011, dan kini menjadi mahasiswa strata satu fakultas sastra UGM. Sekali lagi, dirinya menempuh pendidikan bersama anak-anak normal lainnya. 

Rasanya, dua sosok ini cukup menjadi keterwakilan dari para penyandang disibilitas lainnya yang mampu menoreh prestasi ditengah keterbatasannya. Habibie Afsyah , Eko Hartono, Ramadhani Ray  adalah sosok lain yang juga sukses kendatipun mereka dalam kondisi fisik tidak sama dengan orang normal pada umumnya. Tapi  ternyata, mereka lebih luar biasa. Mengajarkan kita untuk bersyukur, mengajarkan kita untuk tetap optimis, gigih, sabar dan tak pantang menyerah dengan keadaan dan kondisi sesulit apapun. Karena mereka membuktikan sendiri, bahwa ternyata, mereka yang dikucilkan di masyarakat bahkan lingkungan keluarga mereka, namun mereka tetap survive.

Terimakasih saya haturkan kepada kartunet yang telah menginisiasi adanya kontes semi SEO dengan tema ini. Selamat pula untuk kartunet atas pencapaiannya memenangkan dana hibah Cipta Media sebesar 244 juta rupiah atas kategori “Meretas Batas Kebhinekaan Bermedia” dengan judul Kartunet.com: Media Online Sosialisasi dan Pengembangan Komunitas Pemuda dengan Disabilitas. Dan saya fikir kartunet.com adalah media online paling massive atau mungkin justru satu-satunya situs yang sangat konsen dengan para penyandang disabilitas. Gebrakan baru dan inovasi yang sangat keren saya rasa untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa para penyandang disabilitas itu bisa berkarya, berprestasi, bahkan melek teknologi-terbukti dengan adanya kartunet ini. 

Saya sangat berharap, blogger yang membaca postingan Disabilitas dan Pandangan Masyarakat ini, bisa kemudian terubah stigmanya untuk tak lagi memarjinalkan mereka yang diberi keistimewaan oleh Tuhan. 

Harapan saya, kartunet.com selalulah menjadi yang terdepan, mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa penyandang disabilitaspun bisa survive. Terus kawal isu-isu mengenai disabilitas, dan sadarkan masyarakat bahwa penyandang disabel itu istimewa!

Kontes Blogging Kartunet 2011