Saturday, November 26, 2011

Cerpen : Sepi (yang tak lagi) Sunyi


Sepi (yang tak lagi) Sunyi
~Tri Lego Indah F N~

Hariku sunyi. Ini adalah babak baru dari sejarah hidupku. Entah bagaimana awalnya akupun tak tahu. Lamat-lamat, keramaian itu tak bisa lagi ku nikmati. Ceracau burung di pagi hari ataupun lengkingan panggilan ibu, tak lagi bisa aku dengar.  Aku terpekur dalam duniaku yang baru. Dunia sunyi. 

Aku baru menyadarinya pagi ini. Setelah ibu masuk ke kamarku sambil memandangiku penuh tanya. Ku lihat bibirnya bergerak-gerak. Bisa ku pastikan ibu sedang berbicara kepadaku. Tapi tak satupun ucapannya sampai ke telingaku. Aku membesarkan pandangan mataku. Mulai mencermati setiap kata yang keluar dari gerak bibirnya. Aku tak sanggup. Dan segera aku memeluk ibu.

“Aku tak bisa mendengar bu,”kataku lirih saat aku rengkuh dalam pelukan ibu.

Ibu terbelalak tak percaya. Beliau terlihat kaget dan sangat shock dengan kenyataan yang baru saja diterimanya. Putra kebanggaannya kini tak lagi bisa mendengar. Dirinya lemas, bulir bening terjun bebas membasahi raut mukanya yang menua dimakan usia. Tapi segera ia mengusap air matanya, dan merengkuhku dengan penuh kasih.

***
Aku masih kelas lima sekolah dasar. Sejak hari itu aku memutuskan untuk berhenti sekolah. Aku masih shock, bingung dan belum menyesuaikan diri. Hari-hariku hampa. Aku hanya berkawan dengan sunyi. Aku masih belum bisa menerima takdirku. Aku tuli di usiaku yang sudah 11 tahun. Rasanya hidupku menjadi tak berguna. Ingin mati saja aku.

Pernah suatu hari, pak Busyro, kepala sekolah dasar negeri tempatku belajar menyarankan kepada bapak untuk menyekolahkan aku ke Sekolah Luar Biasa di Kemiling. Bapak hanya mengiyakan, tanpa menanggapinya lebih jauh. Uang dari mana, bapak menyekolahkan aku ke sana. SPP tiap bulan,  belum lagi lokasi yang sangat jauh dari rumahku yang berada di desa pedalaman, menambah lagi beban aku harus di asramakan. 

Hatiku semakin miris. Batinku menjerit. Ingin aku protes kepada Tuhan. Begitu tegakah Tuhan kepadaku?. Aku hanya bisa merutuki nasibku yang sangat malang. Oh Tuhan...

***
Ini sudah tahun ke dua, aku tak lagi sekolah. Hari-hariku, ku gunakan membantu bapak angon ternak milik tetangga. Gaduh sapi, begitu istilah yang biasa kami kenal ketika kami merawat ternak milik tetangga. Setelah sapi itu nanti melahirkan, maka jatah sapi yang lahir itu akan menjadi milik kami. Begitu terus bergantian. Dari hasil gaduh sapi itu, kini kami sudah punya dua sapi. Satu betina, dan satu jantan. Bapak menugasiku untuk merawat dua sapi itu. Aku iyakan tugas dari bapak. Dengan menggembala dua sapi itu, cukuplah mereka bisa menghibur kesepianku membunuh waktu. 

Di kesendirianku, sambil angon sapi, aku gunakan untuk membaca buku. Buku yang ku beli bersama Mamat sahabatku. Saat sekolah dulu, aku memang sangat suka membaca. Oleh teman-temanku aku dijuluki si kutu buku.
Mamat adalah rekan sebayaku. Rumahnya di seberang desaku. Pertamakali kami bertemu, saat kami sama-sama menggembala sapi di lapangan luas sebelah barat sekolah dasar negeri tempat Mamat dulu bersekolah.
Oiya, aku belum bercerita dari mana kami mendapat buku itu. Kami membeli buku recycle di toko buku yang letaknya di sebelah timur pasar tradisional, sekitar 7 km  jaraknya dari rumah kami. Kami ke sana menggunakan sepeda jengki  milik bapak, yang biasa digunakan untuk mencari rumput.
Mamat sahabat yang sangat pengertian denganku. Dia selalu menganggap aku layaknya anak normal seperti dirinya. Bukan sebagai seorang anak yang cacat, dengan ketulian yang kini aku derita. Mamat selalu menghadapkan mukanya kepadaku setiap kali hendak mengajakku bicara. Dia juga memperlambat gerakan bibirnya agar aku bisa mencerna apa yang ia ingin sampaikan kepadaku.
 Koleksi bukuku semakin banyak. Buku-buku itu aku beli dari hasil merumputkan ternak milik tetangga. Tetanggaku yang seorang pegawai negeri tak ada waktu mencari rumput sendiri. Sehingga beliau menawariku untuk mencarikan rumput ternak miliknya. Lumayan, dalam seminggu aku diberi upah lima puluh ribu. Awalnya, uang hasil merumput aku berikan pada ibu. Tapi ibu menolaknya, dan memintaku untuk menyimpannya sendiri. Untuk ditabung. Aku menuruti saran ibu. Uang hasil merumput aku simpan di celengan bambu yang bapak buatkan untukku. Celengannya sangat mirip dengan kentongan yang biasa dipakai kentongan saat bapak-bapak ronda malam.
Setiap dua minggu sekali aku rutin membeli buku. Mbak Lego, yang menjaga toko buku itu selalu menyambut kedatanganku. Aku menjadi pelanggan setia toko buku Litera itu. Pernah suatu kali mbak Lego menghadiahi aku 5 buku kumpulan puisi Hasan Aspahani. Bahkan mbak Lego juga mengizinkan aku membaca buku di sana, tanpa aku harus membelinya.
Dan aku yang saat sekolah dulu menyukai mengarang, kini kembali belajar menggunakan pena kembali. Aku mulai menulis. Pertama kali aku menulis tentang kegiatan harianku. Semacam curhat mungkin lebih tepatnya. Lama-lama, aku mulai mencoba menulis puisi, dan cerpen karanganku sendiri. Aktivitas ini ku lakukan ketika selesai merumput ataupun menggembala sapi. Kadang, di rumah, sehabis shalat isya, aku juga masih melanjutkan tulisanku, dan kemudian membacanya. Seringkali aku tertidur saat sedang membaca tulisanku. Buku masih dalam posisi tertelungkup di wajahku
Mamat, adalah satu-satunya sahabat yang tahu aktivitas baruku. Mamat selalu membaca tulisan yang ku buat. Berulangkali Ia memuji tulisanku. Dan terus menyemangatiku untuk menulis. Aku mengiyakan saran Mamat. Aku menjadi semakin rajin menulis. Hingga suatu saat, Mamat menginformasikan kepadaku, bahwa di sekolahnya sedang ada lomba menulis. Untuk menyambut hari pahlawan, 10 November nanti.  Lomba tersebut diperuntukkan bagi siapapun yang berusia 11-14 tahun. Dan event ini, adalah perlombaan setingkat kabupaten.  Dan aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Secara, usiaku masih 13 tahun. Jadi, aku semangat untuk mengikutinya.
Seluruh peserta lomba diwajibkan untuk datang pada hari pengumuman. Sekaligus menyaksikan pertunjukkan drama yang dimainkan oleh siswa-siswi SMP N 2 Way Seputih. Ku lihat di sana, Mamat ikut berperan sebagai salah satu pahlawan. Tepatnya, Mamat mendapat peran sebagai jenderal Sudirman. Aku ikut menikmati rangkaian acara yang dihelat sekolah itu, acara sangat meriah dan ramai. Hingga sampailah  di acara yang ditunggu oleh para peserta lomba. Aku ikut dua jenis lomba. Cerpen dan puisi. Tak banyak berharap, bisa ikut serta saja aku sudah sangat senang.

Seusai tampil, Mamat segera mendatangiku. Kami berbincang cukup hangat. Sampai kemudian panitia lomba mengumumkan juara cipta puisi dan cerpen. Mamat terus menyemangatiku, dan optimis bahwa aku bakal menjadi salah satu juaranya. Mulutku komat kamit merapal do’a. Mataku sengaja ku pejamkan. Antara takut dan nervous. Maklum, baru pertama kali aku ikut lomba.
Mamat menepuk pundakku, dan memberikan selamat kepadaku. Oh Tuhan? Benarkah aku tidak bermimpi? Mamat mencubit pipiku yang gembil, dan memberitahuku bahwa aku menjadi juara satu puisi dan juara dua cerpen. Oh Tuhan, aku masih tak percaya. Mamat segera memintaku bergegas ke podium untuk menerima thropy dan hadiah lainnya. Ku peluk Mamat seusai aku turun dari podium. Terimakasihku tiada terkira aku sampaikan kepada Mamat, sahabat terbaikku.
Hari-hariku semakin penuh keoptimisan. Aku sangat beruntung memiliki orang tua dan sahabat yang selalu memotivasiku. Ternyata, kabar aku menang lomba tersebut, terdengar pula di sekolah dasar negeri tempat aku menuntut ilmu dahulu. Dan pak Busyro memintaku untuk kembali bersekolah di sana. Meski usiaku sudah tiga belas tahun, pak Busyro masih memberikan kesempatan padaku bersekolah di bangku kelas 6. Aku bersama dengan adik-adik kelasku yang baru berusia 11-12 tahun. Aku berusaha tidak minder dan berusaha menyesuaikan diri dengan mereka.
Ujian nasional sudah di ambang pintu. Aku kembali rutin belajar sendiri. Keterbatasan pendengaranku bukan halangan aku untuk malas belajar. Justru aku sangat bekerja keras. Melahap semua buku pelajaran yang ada di perpus. Menggunakan waktu istirahat untuk  belajar di perpus, dan berlatih mengerjakan soal di sana.
Hari ini pengumuman ujian nasional. Kami berangkat ke sekolah didampingi orang tua masing-masing. Bismillah, aku yakin aku bisa lulus dengan kerja keras yang sudah aku lakukan, juga restu dari orang tua dari do’a dari sahabat-sahabatku.
Alhamdulillah, aku berhasil menjadi yang terbaik, dalam Ujian Nasional se kabupaten Lampung Tengah. Aku berhasil mengalahkan teman-temanku yang normal dan rajin mengikuti bimbel. Bukan bermaksud menyombongkan diri. Ini adalah jawaban Tuhan, bahwa ternyata, aku yang cacat ini bisa sejajar dengan mereka. Anak-anak normal yang seringkali mencibirku.
Langkahku untuk sekolah semakin mulus. Berkat prestasiku menjadi yang terbaik saat Ujian Nasional lalu, Aku mendapat beasiswa gratis dari pemerintah daerah. Aku gratis bersekolah di sekolah formal hingga aku tamat SMA. Dengan syarat prestasiku tak boleh jeblok.
Kini aku sudah menjadi siswa SMA Negeri sekolah kenamaan di kotaku. Bapak mengizinkan aku sekolah di sini karena bapak tahu aku anak yang mandiri. Hanya berbekal restu dan do’a dari orang tua, aku berangkat menyambut beasiswa untuk bersekolah di sana. SMA N 9 Bandar Lampung. Siapa yang sangsi dengan kekerenan sekolah ini. Sekolah yang menghasilkan lulusan terbaik yang selalu berhasil membawa siswa-siswinya untuk masuk perguruan tinggi kenamaan di negeri ini. UI, ITB, UGM, USU, IPB adalah perguruan tinggi benefit yang banyak menampung lulusan dari sekolah yang kini aku berkesempatan menjadi salah satu siswanya.
Bersekolah di sini, mengenalkanku pada dunia internet. Teknologi semakin canggih. Berbagai informasi yang ingin ku peroleh bisa aku dapatkan hanya dengan mengetikkan keyword di kolom search yang ada di google. Dari sanalah aku mulai tahu bahwa banyak informasi perlombaan menulis yang di publish di internet.
Suatu ketika, rekanku Eyra, meminjamkan aku majalah remaja. Story Teenlit Magazine  nama majalahnya. Sebuah majalah kenamaan yang berlokasi di Kedoya- Jakarta Barat. Sambil menikmati isinya, Eyra menunjukkiku kolom cerpen duet. Ide gila kami mulai keluar. Ya, aku dengan Eyra, sepakat untuk mencoba berkolaborasi dalam cerpen duet itu.
Tiga bulan pasca kami mengirim cerpen duet tersebut, Eyra memberiku kabar, bahwa pihak Story menelponnya, memberitakukan bahwa cerpen kami akan dimuat di edisi 26. Ahay, rasanya tak sabar segera melihat cerpen duet kami tercetak di majalah itu.
Benar saja, Filantropy  di Pucuk Meranti,  judul cerpen duet kami, ikut meramaikan isi majalah itu di edisi 26. Aku segera berkirim kabar ke rumah, dengan mengirimi SMS kepada pak Busyro, agar menyampaikan ke bapak, kalau tulisanku masuk majalah nasional. Aku ingin membuat bapak bangga memiliki anak sepertiku.
Aku semakin rutin menulis. Dengan dibantu Eyra, rekan satu kelas yang memiliki hobi sama sepertiku, aku mulai memberanikan diri merambah media. Horison, Aneka Yes!, Story, Diva, dan Leutika adalah incaran karya-karyaku selanjutnya. Alhamdulillah, beberapa karyaku bertengger di sana. Kini, namaku semakin di kenal di media. Beberapa kali profileku dimuat di koran lokal daerahku. Ternyata, inilah rahasia Tuhan, yang baru aku selami maknanya, bahwa sepi-ku kini tak lagi sunyi. Aku bisa meramaikan dunia kepenulisan dengan berkarya di tengah ‘keistimewaan’ yang  Tuhan berikan padaku. Penyandang  disabilitas yang kini punya jejak di bidang kepenulisan.
Bandar Lampung, 26 November 2011
19:48wib

Terinspirasi dari perjalanan kehidupan adikku  yang ‘istimewa’ yang kini menjadi mahasiswa fakultas sastra UGM.

3 comments:

  1. dari seputih banyak juga ya ndah Mukhanif Yasin Yusuf....?

    ReplyDelete
  2. Bayu : Enggak ^^
    Setting tempatnya aku rubah semua, tapi kisahnya 75 persen terinspirasi perjalan kehidupan Mukhanif :)
    Mukhanif aslinya Purbalingga, jawa tengah, berhubung nggak begitu paham daerah di sana, makanya tak buat settingnya di Lampung :)

    Makasih ya, udah mampir :)

    ReplyDelete
  3. wew...
    baru aku baca, ee..
    gak sengaja....

    ReplyDelete

Tinggalkan jejak setelah berkunjung yaa ...