Thursday, October 27, 2011

Gadis yang Memanggilku : Mami


Jika di dunia maya aku bertemu sosok seorang Ibu, maka di dunia nyata aku bertemu sosok seorang anak. Anak yang meminangku menjadi ibunya sejak 3 bulan lalu.
 Anak itu memanggilku : Mami

***

            Tuhan, selalu punya rahasia untuk hambaNya. Ketika aku sangat merindukan sosok seorang Ibu yang tahu apa mauku, Tuhan, mengirimkannya kepadaku. Walaupun harus jauh aku mendapatkannya, namun aku bersyukur, kini bisa memilikinya. Ibu yang kupanggil mamak, yang sangat tahu tentangku.

            Namun, sejak 3 bulan yang lalu, aku jarang bisa lagi bermanja dengan mamak. Hubungan kami yang mengandalkan satelit telepon, juga jaringan internet, membuat kami kesulitan berkomunikasi. Maklum, 3 bulan lalu, aku sedang melaksanakan tugas pengabdian di desa yang agak susah terjangkau signal telepon apalagi jaringan internet. Aku, hanya bisa memendam rasaku, pada lembaran kertas untuk menyampaikan kerinduanku pada mamak. Karena kertas, menjadi teman yang paling setia, mendampingiku setiap saat, setiap waktu.

            Tiga bulan di sini, aku mengenal banyak karakter. Sepuluh kepala berada dalam ruang yang sama, mengajariku untuk peka dengan mereka. Pun, aku sangat berusaha paham dengan mereka. Dan di sana, aku melihat satu anak, yang sedikit berbeda dengan yang lainnya. Dia pendiam. Tapi aku yakin, dia bukan pribadi introvet. Mungkin, dia butuh penyesuaian lebih lama dengan yang lainnya. Aku maklum dan berusaha memahaminya.

            Lima hari pertama, banyak orang tua dari ke 9 rekan sekelompokku ditengok oleh orang tua masing-masing. Tentu saja, tidak denganku. Orangtuaku sudah menganggapku anak yang mandiri, jadi mereka sudah tak khawatir denganku, yang terbiasa hidup mandiri. Walaupun ada bias iri dengan mereka, namun aku berusaha menepisnya, dan lagi-lagi, aku harus memakluminya. 

Mungkin, sisi pekaku yang terlalu tajam. Diam-diam, aku mengamati lakunya yang sering berbeda. Menyendiri. Aku berusaha mendekatinya. Bukan mendekati mendatanginya secara fisik. Aku, mencoba menyapanya lewat sebuah pesan singkat. Aku mengirim sms. Walaupun kami berada di ruangan yang sama. Namun, ini usaha yang bisa ku coba. Apa salahnya.

 Dia terkikik, dan kamipun akhirnya asik berbalas sms, sekali lagi, kami masih berada di kamar yang sama. Kamar yang sesak, namun menyimpan banyak cerita. Betapa tidak, satu kamar kami bertumpuk seperti ikan pepes. Bertujuh dalam satu kamar, lengkap dengan koper dan ransel-ransel yang kami bawa. 

Aku pun tersenyum, mengingat komunikasi yang pertama kali ku jalin dengannya. Smsan dalam kamar yang sama. Sunguh kurang kerjaan kalau aku mengingatnya. Tapi, itulah yang jadi awal kedekatan kami. Pun, perlahan, kami saling memahami. Dan banyak kesamaan yang kami miliki. Dan kami merasa cocok. Jadilah, kami masih sering mengirim pesan singkat, sekalipun kami masih berada dalam satu kamar yang sama.

Semakin lama kami semakin dekat. Kedekatan inipun membuat yang lain merasa aneh dengan kami berdua. Ya, aku sangat paham. Jika dalam logika mereka, aku tak pantas untuk dekat dengan si gadis pendiam ini. Kami, memang berada dalam asal usul keluarga yang berbeda. Dan bentukan lingkungan yang berbeda. Dirinya, ada dalam keluarga yang serba ada, sama dengan yang lainnya. Sedangkan aku, terlahir dari keluarga sederhana, yang alhamdulillah masih berkecukupan hingga bisa menyekolahkanku di jenjang perguruan tinggi. Namun, ketika hati sudah didekatkan olehNya, siapa yang bisa melerai kedekatan kami berdua? 
                                                                                    ***

Aku masih ingat, ketika itu, saat orangtua si gadis pendiam ini berpamitan pulang, setelah usai menengoknya, dirinya tampak tak rela. Tentu saja, dia ingin ikut kembali bersama orang tuanya. Mungkin saja ketika itu, Ia sudah berniat mengemasi kopernya lagi, untuk dibawa pulang. Tapi, tentu dia malu mengakuinya. :)
 
Orangtuanya pulang, dan aku menepuk punggungnya, ku ajak dia duduk di kursi di depan teras di rumah pak lurah. Hening. Kami berdua diam tanpa kata. Sesekali aku tersenyum menengok wajahnya. Dia tersenyum, mukanya memerah. Matanya berkaca-kaca. Ya, dirinya menahan sendu. “Menangislah, jika kau ingin menangis,” ujarku kepadanya. Sesaat, ku biarkan dirinya larut dalam tangis. Haru. Aku masih diam, sesekali mengelus pundaknya. 

Limabelas menit kemudian, dengan terbata diiringi isaknya, sepatah duapatah kata terlontar dari mulut si gadis ini. Aku menghadapkan wajahku padanya, menyimak setiap kata yang terlontar darinya. Yah, ku biarkan saja dia bercerita, dan membagi rasanya. Toh, yang bisa ku lakukan kali itu, hanya menjadi pendengarnya. Setelah dirinya cukup puas membagi rasanya, barulah aku, perlahan membagi pengalamanku padanya. Hmm, aku tahu bagaimana rasanya untuk pertama kali tak bersama keluarga tercinta. Pun, ini langsung dalam jangka waktu yang lumayan lama. 3 bulan. Bisa-bisa jadi stress dibuatnya, kalau kita benar-benar tidak ikhlas. Setelah kami saling share cukup lama, aku segera merengkuhnya. Memeluknya, seperti layaknya seorang ibu memeluk anaknya. Kami terbawa dalam nuansa haru penuh syahdu. 
                                                    
***


Hari-hari kami selalu saja penuh cerita. Terutama aku dengan dirinya. Selalu saja ada hal baru yang bisa menjadi bahan kami bercerita. Tak pernah habis. Entahlah, kami begitu nyambung, padahal kata yang lain, kami beda dunia. Ah, tapi kami chuek saja. Mungkin mereka iri saja dengan kedekatan kami. Aku tak mau peduli.


Pun ketika kami pindah rumah, rasa ini tetap ada. Aku semakin menyayanginya, seperti menyayangi anakku sendiri. Mungkin naluri keibuanku telah tumbuh. Hahaha, aku juga tak tahu. Aku memang belum punya anak secara biologis (maklum saja, kan saya belum menikah, ahhahaaha), tapi, aku sejak SMA sudah mempunyai beberapa anak asuh. Menjadi wajar mungkin, jika aku sudah sedikit paham psikologi anak, sekalipun dirinya seumuran denganku.

Banyak hal yang selalu khas dari dirinya. Sangat ku ingat sekali, dirinya anak yang sangat penakut, terutama dalam kondisi gelap. Haha, “Miii, temenin siii miii, Aku takuuut”, selalu saja, itu mantra saktinya untuk membujukku menemaninya menjemur baju di belakang. Atau kalau aku ngeyel untuk sesekali tak mau menemaninya, dia selalu berujar “Aidah weh, Mami iniiiii”, maka, aku hanya bisa terkekeh sambil terayu untuk menuruti maunya si gadis. 


Yah, dunia ini memang unpredictable, aku juga tak pernah menyangka bisa sedekat ini dengannya. Kadangpun ketika sekarang kami bersua, kami juga bertanya-tanya. Bagaimana kita bisa sedekat ini? Dan kami hanya menjawab : ini rahasia illahi.

Bandar Lampung, 27 October 2011
At 9:43pm
Efek habis smsan ama si anak gadis, jadi pengen nulis ini 


Dwinta Octiara Amrin  dan  Tri Lego Indah
Hadeuh naaak, kapan kita minum cendol berdua lagi???


No comments:

Post a Comment

Tinggalkan jejak setelah berkunjung yaa ...